Bos Kripto di Turki Hilang dan Bawa Aset Nasabah Rp 29 Triliun!

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 23 Apr 2021 09:03 WIB
Ilustrasi Uang Digital Bitcoin
Foto: (M Fakhry/detikcom)
Jakarta -

CEO dari platform transaksi mata uang kripto (cryptocurrency) Thodex, Fatih Faruk Ozer menghilang. Pengusaha Turki tersebut dilaporkan telah kabur meninggalkan negara dengan membawa aset investor senilai US$ 2 miliar atau setara Rp 29,11 triliun (kurs Rp 14.555).

Dilansir dari Deutsche Welle (DW), Jumat (23/4/2021), Ozer juga telah menutup situs Thodex dan merilis pernyataan bahwa situsnya akan ditutup dalam 4-5 hari karena potensi investasi luar yang tidak ditentukan.

Sesaat setelah pernyataan itu terbit di situsnya, para investor tak dapat mengakses akun dan menarik uang mereka. Akhirnya, ribuan investor mengajukan tuntutan pidana terhadap Thodex.

Saat ini, Ozer sedang dicari oleh kepolisian Turki. Jaksa di Istanbul juga telah memerintahkan penyelidikan terhadap Thodex pada Kamis, (22/4) kemarin.

Kantor Jaksa Penuntut Umum Istanbul mengatakan, Thodex telah merugikan banyak orang. Jaksa juga memerintahkan penyelidikan terhadap Ozer atas tuduhan penipuan terburuk dan mendirikan organisasi kriminal.

Ozer dilaporkan melarikan diri dari Turki setelah otoritas keamanan merilis fotonya yang sedang melakukan pemeriksaan paspor di bandar udara (Bandara) Istanbul. Namun, belum diketahui ke mana ia pergi. Menurut laporan media lokal, pria yang usianya di kisaran 27 atau 28 tahun tersebut telah terbang ke Albania atau Thailand.

Pengacara Abdullah Usame Ceran yang telah mengajukan tuntutan pidana terhadap Ozer mengajukan banding kepada pihak berwenang untuk menyita aset platform, termasuk rekening bank, saham, dan kepemilikan berdasarkan laporan dari Anadolu Agency.

Namun, dalam situs Thodex, dirilis pernyataan yang membantah semua pemberitaan terkait penipuan itu. Thodex mengatakan pihaknya sedang melakukan penawaran rahasia.

"Ada bank dan lembaga pembiayaan yang terkenal secara global yang telah lama ingin berinvestasi di perusahaan kami dan mengajukan kemitraan untuk waktu yang lama, dan namanya akan kami umumkan ketika proses penawaran selesai. Untuk menyelesaikan proses ini, transaksi perlu dihentikan dan proses penjualan harus diselesaikan," bunyi keterangan di situs Thodex.

Setidaknya Thodex dilaporkan memiliki 400.000 pelanggan, 391.000 di antaranya aktif dalam transaksi mata uang kripto. Menurut Coinmarketcap, volume perdagangan di Thodex selama 24 jam mencapai US$ 538 juta atau sekitar Rp 7,83 triliun pada hari perdagangan terakhirnya.

Kantor berita Turki, HaberTurk mengatakan Thodex menghentikan perdagangan setelah melakukan kampanye promosi yang menjual Dogecoin dengan potongan harga, tetapi tidak mengizinkan investor untuk menjual.

Mata uang kripto menjadi semakin populer di kalangan masyarakat Turki meskipun ada skeptisisme di pihak pemerintah dan pasar yang sebagian besar tidak diatur.

Bank sentral Turki telah memperingatkan mata uang digital mengandung risiko signifikan, dan telah memutuskan untuk melarang penggunaan mata uang kripto sebagai pembayaran barang dan jasa mulai dari 30 April.

"Dompet dapat dicuri atau digunakan secara tidak sah tanpa izin dari pemegangnya," kata bank sentral pekan lalu.

Selain itu, akibat kasus ini otoritas Turki akan memperketat pengawasan di pasar kripto.

(vdl/zlf)