Muncul Ajakan Pindahkan Aset ke Uang Kripto, Aman Nggak Sih?

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 14 Mei 2021 14:45 WIB
Ribuan Warga Australia Adukan Kasus Penipuan Bitcoin
Foto: Australia Plus ABC
Jakarta -

Baru-baru ini muncul ajakan untuk mengalihkan aset investasi ke mata uang kripto. Sebab, koin digital tersebut dinilai lebih aman ketika dunia mengalami gejolak. Ajakan untuk memindahkan aset investasi ke bitcoin cs disuarakan oleh salah satu akun Twitter dengan pengikut berjumlah 179 ribu.

"Pindahkan sebagian asetmu di crypto currency. Sebab ekonomi dunia kemungkinan akan mengalami crash akibat pemerintah US mencetak uang dolar gila2an utk stimulus covid," demikian cuitan akun Twitter tersebut dikutip detikcom, Jumat (14/5/2021).

Menanggapi itu, Direktur riset Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Piter Abdullah justru menilai uang kripto lah investasi yang paling tidak aman.

"Justru investasi kripto adalah yang paling tidak aman," kata dia kepada detikcom.

Piter pun membubuhkan hasil risetnya tentang berisikonya mata uang kripto. Menurutnya, di balik potensi keuntungan yang luar biasa tersimpan risiko yang juga sangat besar. Masyarakat yang ingin berinvestasi pada koin digital tersebut sebaiknya memahami terlebih dahulu secara mendalam.

Uang kripto, dijelaskannya, pertama kali diciptakan dengan tujuan menjadi uang (currency) yang dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran. Penciptaan uang kripto berbeda dengan penciptaan uang yang selama ini dikenal, yang dicetak dan diedarkan secara sentralistik oleh sebuah bank sentral.

Dia mencontohkan rupiah yang dicetak dan diedarkan oleh Bank Indonesia (BI) berdasarkan Undang-Undang yang berlaku. Pencetakan diserahkan kepada Perum Peruri. Karena rupiah dicetak dan diedarkan oleh BI berdasarkan undang-undang maka BI bertanggung jawab menjaga nilai rupiah.

BI selalu memantau perkembangan jumlah uang rupiah yang beredar untuk menjaga nilainya. Bank sentral akan memastikan rupiah beredar tak melebih jumlah yang dibutuhkan oleh perekonomian agar nilai rupiah tidak jatuh dan merugikan masyarakat. Jadi, uang yang dicetak dan diedarkan oleh BI memiliki underlying value.

"Tidak demikian dengan uang kripto. Uang kripto diciptakan tidak secara sentralistik melainkan terdesentralisasi. Artinya uang kripto diciptakan oleh masyarakat itu sendiri dengan menggunakan teknologi blockchain, yang kemudian disebut sebagai penambangan atau mining. Beberapa uang kripto sudah dibatasi jumlah atau nilai uang yang akan diciptakan," ujar Piter.

"Dengan supply yang terbatas, setiap kenaikan demand akan menyebabkan kenaikan nilai uang kripto. Sebaliknya ketika demand turun maka uang kripto juga akan menurun. Sekaligus hal ini menyiratkan, uang atau koin kripto yang saat ini nilanya luar biasa tinggi, bisa saja suatu saat tak lagi bernilai. Ketika itu terjadi, tidak ada satupun pihak yang akan bertanggung jawab," lanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2