Robot Trading Sering Dipakai buat 'Alat' Tipu-tipu, Baca Ini Biar Aman

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 27 Sep 2021 07:35 WIB
Trading forex
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Robot trading belakangan ini semakin populer di dunia investasi, terutama di sektor forex. Dengan sederet kemudahan yang ditawarkan, sistem ini menarik para investor newbie.

Menariknya lagi ternyata banyak dari web entitas di bidang perdagangan berjangka komoditi (PBK) yang beroperasi ilegal dan diblokir Bappebti menggunakan modus robot trading tersebut.

Memang dengan robot trading memberikan kemudahan bagi penggunanya dalam bertransaksi. Tak perlu repot-repot menyusun strategi transaksi, karena robot trading dibuat untuk menjalankan transaksi secara otomatis, dengan memanfaatkan sinyal pergerakan pasar untuk menentukan apakah melakukan tindakan beli atau jual pada titik waktu tertentu.

Tapi robot trading bukan sesuatu yang sempurna. Menggunakan robot trading juga memiliki risiko.

Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra menjelaskan, salah satu risiko menggunakan robot trading adalah kondisi pasar forex yang selalu berubah. Robot trading sendiri belum bisa beradaptasi dengan perubahan situasi pasar.

"Robot ini diciptakan dengan strategi yang statis, artinya tidak mampu beradaptasi dengan perubahan situasi market. Ya suatu saat robot ini malah berkebalikan mendorong kerugian yang lebih besar," terangnya kepada detikcom, Minggu (26/9/2021).

Oleh karena itu dalam penggunaan robot trading, investor harus tetap memantau transaksinya. Ariston menjelaskan, ada beberapa jenis robot trading, ada yang beroperasi otomatis secara penuh, ada juga yang semi otomatis.

Jika ingin tetap menggunakan robot trading, Ariston menyarankan agar pertama kali melihat historical transaksi dari robot trading yang ingin dibeli. Setidaknya dalam periode 1 tahun hingga 3 tahun.

Tujuannya untuk melihat tingkat risiko dari robot trading itu melalui indikator drawdown, yang artinya seberapa dalam berkurangnya portofolio nasabah ketika robot trading itu salah dalam mengambil keputusan. Jika si investor sudah tahu besarnya indikator drawdown itu, lalu pastikan bahwa mampu menahan potensi risikonya.

"Jadi pemakainya paham risiko robot itu segini. Kalau berani berarti harus menyiapkan equity sesuai dengan drawdown yang bisa menahan risiko penurunan itu," terangnya.

Bersambung ke halaman berikutnya



Simak Video "Pernah Berutang Rp 17 M, Kevin Aprilio Tak Kapok Bisnis Investasi "
[Gambas:Video 20detik]