Pinjol Ilegal Bikin Sengsara, Ini Tips Penting Biar Nggak Terjebak

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 30 Nov 2021 11:10 WIB
Ilustrasi pinjol
Pinjol Ilegal Bikin Sengsara, Ini Tips Penting Biar Nggak Terjebak
Jakarta -

Pinjaman online (pinjol) ilegal saat ini masih marak di masyarakat. Periode Oktober 2021 lalu Satgas Waspada Investasi mencatat ada 3.515 entitas pinjol ilegal yang dibekukan karena meresahkan.

Saat ini hanya ada sekitar 104 perusahaan fintech peer to peer lending yang terdaftar dan berizin di OJK dan boleh beroperasi secara legal. Pinjol ilegal ini membidik masyarakat yang minim pengetahuan terhadap layanan pembiayaan ditambah adanya kebutuhan keuangan yang mendesak.

Direktur Teknologi Informasi PT Mandala Multifinance Tbk Felix Nugroho, memberikan sejumlah tips untuk masyarakat agar mampu membedakan antara pinjaman online ilegal dengan aplikasi multiguna Mantis guna menghindari risiko buruk ke depannya. Berikut tipsnya:

Cek legalitas si pemberi kredit

Dari sekian banyak pemain di industri ini, ada baiknya untuk melakukan pengecekan legalitas pinjol. Pengecekan terhadap kredibilitas pemberi kredit ke OJK dapat menjadi langkah awal. Keamanan ini menjadi salah satu prioritas yang dipastikan oleh perusahaan yang menyediakan layanan pembiayaan melalui aplikasi.

Cek suku bunga dan biaya-biaya lainnya: masuk akal atau tidak

Masyarakat juga dapat meneliti berapa suku bunga yang ditawarkan untuk pinjaman yang diajukan, berapa denda keterlambatan dan biaya-biaya lainnya. Jika terkesan terlalu memudahkan apalagi menggampangkan, maka Anda perlu curiga. Normalnya, pihak peminjam yang legal tidak akan segegabah itu menghitung besaran bunga, seolah seperti hendak meminjamkan secara cuma-cuma karena minimal ada barang atau surat yang dijaminkan.

Selektif terhadap layanan yang ditawarkan

Pada tahap akhir dalam memilih pinjaman online, masyarakat harus mencermati dengan saksama mengenai layanan yang ditawarkan serta manfaat dan risikonya. Melihat kembali kebutuhan dan kemampuan sehingga lebih teliti dan kritis terkait biaya, agunan, maupun tenor.

Selain poin-poin di atas, Felix Nugroho pun menyarankan agar masyarakat dapat lebih selektif dengan mencari informasi tentang jumlah pengguna aplikasi pinjaman tersebut. "Jika sudah banyak masyarakat yang menggunakan aplikasi tersebut, artinya pun sudah ada kepercayaan yang tumbuh terhadap brand itu sendiri," kata dia, dikutip Selasa (30/11/2021).

Selama hampir dua tahun, Mantis telah mendapat respon positif dari 30.000 orang pengunduh. Adapun jumlah pengguna aktif perbulan Mantis mencapai lebih dari 8.700 Mitra yang tersebar di seluruh Indonesia, Dari segi usia pengguna, 37% di antaranya berusia 25-34 tahun dan 25% lainnya berusia 18-23 tahun. Hal ini berarti pengguna Mantis didominasi oleh Generasi Millennial dan Generasi Z.

"Dengan teknologi yang terus berkembang serta tumbuhnya fintech di Indonesia, kami berharap dapat meningkatkan layanan dan fokus terhadap target kami tahun depan yakni dapat meningkatkan jumlah pengguna hingga 500.000 users," ujar Felix Nugroho.

Lanjut halaman berikutnya.