Bitcoin Anjlok Banget, Investor Kudu Piye?

ADVERTISEMENT

Bitcoin Anjlok Banget, Investor Kudu Piye?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 06 Des 2021 18:30 WIB
Ilustrasi Bitcoin
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Aset kripto bitcoin mengalami penurunan yang tajam. Bitcoin turun hampir 40% dari rekor tertingginya sepanjang masa yang dicapai pada 9 November lalu.

Bitcoin saat ini menyentuh level US$ 41.019 atau sekitar Rp 607,05 juta. Lalu, apa yang mesti dilakukan investor?

Co-Founder Zipmex Indonesia Raymond Sutanto mengatakan, koreksi itu sebenarnya masih merupakan hal yang normal dan sehat. Menurutnya, kondisi ini bisa dimanfaatkan oleh investor untuk membeli di harga yang rendah.

"Dalam kondisi ini, investor sebaiknya memanfaatkan momen yang ada sesuai dengan profil risiko yang mereka miliki. Untuk investor yang memiliki profil risiko dengan toleransi tinggi, momen koreksi BTC bisa dianggap sebagai 'diskon' untuk memasuki pasar dan membeli bitcoin di harga yang lebih murah atau istilahnya buy the dip. Sementara itu, bagi investor dengan tingkat toleransi yang kecil, bisa membeli secara akumulatif atau menggunakan metode dollar cost averaging (DCA)," jelasnya dalam keterangan tertulis, Senin (6/12/2021).

Dia menjelaskan, ada beberapa faktor yang menekan harga bitcoin. Sebutnya, The Securities and Exchange Commision menolak reksa dana WisdomTree Bitcoin Trust pada 1 Desember 2021 lalu.

"Hal ini disebabkan karena proposal yang diajukan WisdomTree Bitcoin Trust belum mampu memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh SEC mengenai pencegahan tindakan manipulatif dan kecurangan," katanya.

Kemudian, bitcoin dianggap sebagai kompetitor sistem perbankan dunia. Lalu, disebabkan oleh rencana Bank Sentral Amerika Serikat (AS) mengurangi pembelian aset atau tapering.

"The Federal Reserve (The Fed) akan mulai mengurangi pembelian aset atau tapering demi menarik kembali sejumlah besar bantuan yang telah disalurkan oleh bank sentral AS. Hal ini dilakukan untuk menormalisasi kebijakan moneter dan menaikkan suku bunga pada tahun 2022, tepatnya pada Juni, September, dan Desember," jelasnya.

"Kebijakan tapering tersebut membuat kebanyakan investor memutuskan untuk melepaskan aset-aset berisiko seperti saham dan aset kripto. Kemudian memutuskan untuk beralih ke dolar AS yang dianggap akan menguat," tambahnya.

(acd/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT