Mau Main Metaverse, Microsoft Beli Produsen Call of Duty Rp 982 Triliun!

Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 19 Jan 2022 08:58 WIB
NEW YORK, NY - MAY 2: The Microsoft logo is illuminated on a wall during a Microsoft launch event to introduce the new Microsoft Surface laptop and Windows 10 S operating system, May 2, 2017 in New York City. The Windows 10 S operating system is geared toward the education market and is Microsofts answer to Googles Chrome OS. (Photo by Drew Angerer/Getty Images)
Foto: Drew Angerer/Getty Images
Jakarta -

Microsoft Corp. telah setuju untuk membeli Activision Blizzard Inc. dalam kesepakatan senilai US$ 68,7 miliar atau setara dengan Rp 982,4 triliun (kurs Rp 14.300/dolar AS). Melalui kesepakatan ini Microsoft berhasil menyatukan dua produsen video game terbesar untuk menciptakan perusahaan game terbesar ketiga di dunia.

Perlu diketahui bahwa Activision Blizzard merupakan rumah produksi bagi sejumlah game paling populer di dunia termasuk Call of Duty, World of Warcraft, Candy Crush, dan Guitar Hero, dan masih banyak lagi. Sedangkan Microsoft sendiri merupakan perusahaan pengembang konsol game Xbox.

Melansir dari Aljazeera, Rabu (19/1/2022), dikatakan bahwa Chief Executive Officer Activision, Bobby Kotick, akan tetap menjalankan perannya sebagai bos perusahaan hanya sampai kesepakatan ditutup. Meski demikian hingga saat ini masih belum diketahui apakah nantinya Bobby Kotick akan tetap menjabat di posisi baru atau tidak.

Namun yang pasti, setelah transaksi kesepakatan ini selesai, bisnis Activision Blizzard akan melapor ke Phil Spencer, yang dipromosikan bersama dengan kesepakatan ke CEO Microsoft Gaming.

Melalui kesepakatan ini, Activision dapat membantu Microsoft memperluas penawarannya sendiri untuk konsol game Xbox dan mendorongnya ke pasar yang lebih besar seperti game seluler dan metaverse.

"Memperoleh Activision akan membantu memulai upaya game Microsoft yang lebih luas dan akhirnya pindah ke metaverse dengan game bagian monetisasi pertama dari metaverse," kata Dan Ives, seorang analis di Wedbush Securities.

"Dengan saham Activision di bawah tekanan berat (masalah terkait CEO/overhang) selama beberapa bulan terakhir, Microsoft memandang ini sebagai jendela peluang untuk memperoleh aset unik yang dapat mendorong strategi konsumennya ke depan," jelasnya lagi.

Selain Activision, Microsoft diketahui telah melakukan beberapa akuisisi baru-baru ini untuk meningkatkan daftar studio gamenya. Pada 2020 kemarin, perusahaan itu setuju untuk mengakuisisi ZeniMax Media Inc., rumah bagi penerbit The Elder Scrolls dan Doom Bethesda Softworks senilai US$ 7,5 miliar.

Kemudian Microsoft juga menghabiskan US$ 2,5 miliar pada 2014 untuk membeli Mojang, pembuat Minecraft, game pembangunan dunia maya populer yang dipandang sebagai jalan menuju ambisi metaverse masa depan perusahaan.



Simak Video "Microsoft Batalkan Kehadiran di CES 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)