Negara Timur Tengah Ini Jadi 'Surga Kripto', Bitcoin cs Bisa Buat Transaksi

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 23 Feb 2022 09:45 WIB
Ilustrasi Kripto
Ilustrasi/Foto: Dok. Shutterstock
Jakarta -

Perusahaan pertukaran kripto terbesar di dunia, Binance pada Desember lalu memutuskan untuk mendirikan badan penasihat di Dubai. Kehadirannya diyakini akan jadi permata karena mencoba memposisikan dirinya sebagai pusat untuk aset digital.

Terlepas dari upaya itu, pusat kripto yang muncul ternyata bukan di Uni Emirat Arab (UEA). Binance bahkan tidak dilisensikan sebagai pertukaran di Dubai.

Dilansir CNN, Rabu (23/2/2022), baru-baru ini yang mendapat persetujuan prinsip untuk menjadi penyedia layanan aset kripto adalah Bahrain. Negara di kawasan Timur Tengah itu merupakan yang pertama dalam memberikan persetujuan peraturan kepada entitas Binance.

"Tidak seperti UEA, negara Teluk kecil itu memiliki peraturan perbankan untuk kripto dan itulah sebabnya perusahaan kripto di wilayah tersebut didirikan di sana," kata Talal Tabbaa, CEO CoinMENA, sebuah bursa yang dilisensikan oleh Bank Sentral Bahrain (CBB).

Dengan menerima kripto sebagai metode pembayaran resmi, CBB memungkinkan bank-bank besar bekerja dengan bursa sehingga pelanggan dapat menarik dan menyetor uang mereka dengan mudah. Di sebagian besar negara, aset digital berada di bawah yurisdiksi regulator sekuritas, bukan bank sentral dan hanya El Salvador yang mengakui kripto termasuk Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah.

Pendekatan CBB itu kontras dengan Bank Sentral Uni Emirat Arab (CBUAE) yang tidak mengakuinya sebagai alat pembayaran.

"Secara umum, sebagian besar kripto tidak diterima secara umum sebagai alat tukar di negara maju mana pun atau tidak untuk tujuan pembayaran umum," kata CBUAE.

Berlanjut ke halaman berikutnya.