Ssst Ada yang Untung Berlipat-lipat Sebelum Terra Luna Ambyar, Ini Sosoknya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 30 Mei 2022 11:14 WIB
Ilustrasi Kripto
Ilustrasi Kripto/Foto: Dok. Shutterstock
Jakarta -

Pada awal Mei kripto dikejutkan dengan runtuhnya salah satu proyek stablecoin populer, Terra Luna. Kripto yang dipatok seharga US$ 1 ini harganya anjlok dan membuat investor rugi besar-besaran.

Namun sebelum itu, stablecoin yang dikenal sebagai TerraUSD disingkat UST dan saudaranya token kripto Luna telah mengalami kenaikan yang cukup spektakuler. Beberapa investor pun sempat menikmati keuntungan berlipat-lipat dan pergi sebelum aset itu benar-benar runtuh awal Mei lalu.

Dikutip dari CNBC, Senin (30/5/2022), perusahaan modal ventura Pantera Capital salah satunya. Mereka mengaku mendapat keuntungan 100 kali lipat dari investasinya di ekosistem Terra Luna. Mereka berinvestasi di Luna sekitar US$ 1,7 juta di Luna dan keluar dengan keuntungan berlipat-lipat sekitar US$ 170 juta.

Joey Krug, Co-chief Investment Officer perusahaan investasi tersebut mengapa mereka telah memperdagangkan koin Luna sejak 2021. Pantera Capital memperdagangkan 87% posisi investasinya sejak Januari hingga April 2022. Di saat itu, harga koin Luna sedang melonjak tinggi-tingginya.

Pantera kemudian menjual 8% lagi di bulan Mei, setelah melihat masalah di stablecoin TerraUSD. Pada akhirnya, masih ada sekitar 5% dari investasi mereka yang 'nyangkut' saat ini.

Yang jelas, dari hasil likuidasi itu bila dihitung dapat menghasilkan pengembalian investasi sebesar US$ 171 juta atau sekitar Rp 2,4 triliun (kurs Rp 14.500) dari investasi awal US$ 1,7 juta atau sekitar Rp 24,6 miliar. Sementara itu, sisa investasi Terra Luna yang mereka miliki terus tidak berarti apa-apa.

"Untuk sebagian besar yang kami jual selama 2021 dan sebagian 2022, itu adalah alasan manajemen risiko yang sangat sederhana. Karena Luna terus menjadi bagian dana yang semakin besar, jadi kami harus mengurangi risikonya karena Anda tidak dapat benar-benar menjalankan dana lindung nilai yang likuid dengan satu posisi menjadi porsi dana yang sangat besar," jelas Joey Krug soal alasan pihaknya mulai menjual Luna sejak 2021.

Tidak seperti Stablecoin pada umumnya, TerraUSD tidak memiliki aset nyata sebagai cadangan untuk mendukung aset mereka menyamai nilai dolar AS.

TerraUSD merupakan stablecoin algoritmik yang dibuat dan bergantung pada kode komputer untuk menstabilkan nilainya sendiri. Penjualan token kripto Luna menjadi satu-satunya cara TerraUSD menstabilkan nilainya.

Saat luna naik menjadi lebih dari US$ 116 pada April dalam waktu kurang dari dua bulan. Investor dapat melakukan arbitrase pada sistem dan mendapat untung dari penyimpangan harga kedua token.

Tapi mungkin insentif terbesar dari keseluruhan skema adalah platform pinjaman yang menyertainya, yang disebut Anchor. Itu menjanjikan investor persentase hasil tahunan 20% dari kepemilikan TerraUSD mereka.

Ketika harga Terra Luna menjadi tidak stabil, investor bergegas keluar dari kedua token, membuat harga turun drastis. Dari situ kehancuran TerraUSD dan Luna terjadi.

(hal/ara)