ADVERTISEMENT

Kolom

Fintech dan Peran OJK dalam Perlindungan Konsumen

Piter Abdullah- Direktur Riset CORE Indonesia - detikFinance
Kamis, 15 Sep 2022 21:53 WIB
Direktur Riset Center of Reform on Economics
Foto: Muhammad Ridho: Piter Abdullah-Direktur Riset CORE Indonesia
Jakarta -

Kemajuan teknologi informasi membawa perubahan yang sangat cepat di industri keuangan. Layanan keuangan yang selama ini terbatas tersedia di lembaga-lembaga keuangan konvensional terutamanya di perbankan secara tiba-tiba mendapatkan pesaing baru, yaitu Financial Technology atau biasa disebut Fintech. Tidak main-main, pesaing baru ini memberikan layanan keuangan yang selama ini tidak pernah terbayangkan. Caranya juga sangat mudah, cukup dengan menggunakan aplikasi di smart phone.

Salah satu contohnya adalah layanan pembiayaan usaha. Selama ini kita hanya mengenal pembiayaan usaha dari bank atau dari pasar modal. Keduanya sangat tidak mudah. Untuk mendapatkan pembiayaan usaha dari bank kita harus datang ke bank dengan membawa proposal kredit dan terutama lagi harus meyakinkan petugas bank bahwa kita layak dipercaya. Untuk mendapatkan pembiayaan dari pasar modal jauh lebih sulit lagi, dengan persyaratan yang bertumpuk-tumpuk.

Dengan semua ketidakmudahan itu wajar jika kemudian yang mendapatkan pembiayaan dari bank dan pasar modal mayoritas adalah usaha-usaha yang sudah mapan, dengan skala usaha yang sudah besar atau setidaknya menengah. Sementara usaha-usaha kecil dan mikro - apalagi yang ultra mikro - harus gigit jari mencari alternatif sumber pembiayaan yang lain. Sudah sangat bagus kalau mereka kemudian tidak terjebak jeratan lintah darat.

Kehadiran Fintech menjadi angin segar bagi dunia usaha terutama usaha kecil dan mikro. Layanan dari Fintech dengan skema peer to peer lending (P2P Lending) dan juga crowd funding menjadi alternatif sumber pembiayaan, yang walaupun belum menjadi jaminan lebih murah tetapi setidaknya lebih mudah.

Fintech peer to peer lending (Fintech Lending) memfasilitasi dan mempertemukan pihak-pihak yang memiliki dana dengan pihak-pihak yang membutuhkan dana. Di sini letak perbedaan utama antara Fintech Lending dengan bank. Bank tidak memfasilitasi dan mempertemukan pihak pemilik dana dengan yang membutuhkan dana. Di bank, pemilik dana menyimpan dananya tanpa melakukan analisis pada proyek mana dana akan ditempatkan. Bank yang kemudian mengelola, menyalurkan dana tersebut kepada pihak peminjam yang membutuhkan dana.

Sementara pada Fintech Lending dimungkinkan pemilik dana melakukan analisis yang cukup komprehensif terhadap proposal-proposal pinjaman yang diajukan oleh pihak peminjam dan kemudian memilih proposal mana yang akan diberikan pendanaan. Dengan demikian pemilik dana tahu persis kemana dana mereka akan digunakan dan oleh karena itu risiko penempatan dana menjadi lebih terukur.

Tidak jauh berbeda dengan Fintech Lending di atas, Fintech Crowd Funding yang juga semakin berkembang di Indonesia memberikan kemudahan kepada pemilik dana untuk memilih proyek-proyek yang akan dibiayai dengan risiko yang terukur. Mereka bisa mempelajari secara cukup mendalam tingkat keuntungan dan risiko dari proyek-proyek yang membutuhkan pembiayaan dan kemudian memilih proyek mana yang akan dibiayai sesuai tingkat keuntungan dan tingkat risiko yang mereka inginkan.

Baik Fintech Lending maupun Fintech Crowd Funding sama-sama memberikan kemudahan bagi pemilik dana menempatkan dana sesuai dengan tingkat keuntungan yang diinginkan dan selera risiko (risk appetite) mereka. Bila menginginkan keuntungan yang tinggi risiko penempatan dana juga akan lebih besar. Disisi lain, Fintech Lending dan Fintech Crowd Funding juga memudahkan usaha kecil dan mikro untuk menampilkan proyek atau usaha-usaha mereka dan kemudian mendapatkan pembiayaan.

Risiko fintech dan perlindungan konsumen di halaman selanjutnya. Langsung klik

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT