ADVERTISEMENT

Robot Trading Telan Korban Lagi! Nasabah Teriak Duit Rp 10 T Nggak Bisa Cair

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 20 Sep 2022 15:57 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Investasi robot trading kini kembali menjadi perbincangan setelah ada dugaan penipuan investasi. Ada ratusan ribu member yang uangnya tak bisa kembali.

Salah seorang member robot trading Net89 Bambang Lukman Hadi mengungkapkan jika saat ini dia bersama member lainnya memperjuangkan uang mereka agar bisa kembali. Dia menjelaskan jika Net89 ini dinaungi oleh perusahaan PT Simbiotik Multitalenta Indonesia (SMI).

"40 bulan trading itu berjalan tidak ada masalah. Kami para member yakin jika PT SMI itu bukan trading palsu," kata dia saat dihubungi, Selasa (20/9/2022).

Bambang mengungkapkan, kondisi baik ini masih bertahan hingga akhir 2021. Namun, secara tiba-tiba manajemen PT SMI dipanggil oleh Bareskrim Polri.

"Hingga pada 27 Januari manajemen melalui Andreas Andreanto meminta kami member untuk stop trading. Padahal selama tiga tahun lebih berjalan baik dan mulus tiba-tiba diminta stop, kaget dong," kata dia.

Bambang menyampaikan, saat itu pihak manajemen juga masih gencar melakukan audiensi dengan para member. Lalu pihak manajemen juga meminta agar member menarik semua dana yang ada di dalam platform robot trading.

Hal ini mencerminkan jika manajemen mendukung pemerintah yang ingin melawan skema ponzi. "PT SMI mau buktikan kalau tidak skema ponzi, mereka bilang ingin menunjukkan jika benar-benar perusahaan yang baik," jelasnya.

Namun, peraturan penarikan juga ada catatan yang harus dipenuhi, seperti maksimal harus US$ 500. Hal ini karena manajemen menilai kebanyakan member adalah skala kecil, sehingga member dengan modal yang besar harus rela menunggu gelombang berikutnya.

Kemudian member juga diminta untuk berhubungan langsung dengan broker dan diminta membuka rekening kripto. Padahal menurut dia, jika membuka rekening kripto ini akan lebih sulit.

"Karena banyak alasan ini, banyak member yang gelisah jika uangnya tak bisa kembali. Hingga lama kelamaan brokernya tidak kooperatif. Hingga akhirnya ada wacana gagal bayar," ujarnya.

Bambang menyebutkan total perkiraan kerugian jika dihitung dari total member 200 ribu orang bisa mencapai Rp 10 triliun. "Memang PT SMI tidak pernah mengeluarkan data resmi, tapi mereka selalu sampaikan jika member sudah mencapai 250 ribu orang dengan dana kelolaan Rp 15 triliun, jadi kasarnya kita hitung saja 200 ribu orang dan dana kelolaan Rp 10 triliun, itu yang tidak bisa ditarik," jelas dia.

Simak Video: Member Robot Trading NET89 Tuntut Pengembalian Dana ke Andreas Andreyanto

[Gambas:Video 20detik]



(kil/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT