Rupiah Digital Bukan Kripto, Terus Apa Dong?

ADVERTISEMENT

Rupiah Digital Bukan Kripto, Terus Apa Dong?

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 18 Des 2022 22:08 WIB
a hand hold a smart phone and pay with it.
Foto: iStock
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) akhirnya telah mengumumkan secara resmi untuk menerbitkan CBDC (Central Bank Digital Currency) alias Rupiah Digital.

Rencana ini tentu menimbulkan pertanyaan, apakah Rupiah Digital bakal menggantikan uang kertas dan logam yang sudah tersebar? Apakah Rupiah Digital ini sama dengan uang kripto lainnya?

Praktisi Perbankan, Abiwodo menjelaskan bahwa Rupiah Digital ini berbeda dengan kripto pada umumnya. Dia juga yakin kehadiran Rupiah Digital mampu membuat transaksi uang elektronik semakin meningkat seiring berjalannya waktu.

"Dalam mengenal rupiah digital, tak sedikit masyarakat yang menyamakannya dengan uang kripto. Dari hal ini, perlu Anda pahami bahwa CBDC bukanlah mata uang crypto seperti ethereum, bitcoin, dan lain sebagainya. Karena berbeda dari mata uang kripto, CBDC dihadirkan secara legal," terangnya dikutip Minggu (18/12/2022).

Dia menjelaskan pengelolaan CBDC juga dilakukan langsung oleh otoritas moneter negara. Dengan demikian, volatilitas nilai rupiah digital ini diharapkan bisa lebih stabil. Jika memang demikian, maka ketahanan perbankan bisa utuh dan lebih baik dari sebelumnya.

Dalam melahirkan rupiah digital, ada serangkaian tahapan yang akan dilalui. Mulai dari wholesale CBDC untuk penerbitan, pemusnahan, hingga transfer antar bank. Dengan beberapa tahapan tersebut, harapannya rupiah digital bisa memberikan manfaat dan keuntungan bagi semua pihak.

BI melakukan hal ini juga diyakini bukan tanpa alasan. BI berencana menerbitkan rupiah digital sebagai respon dalam menghadapi kondisi global yang mudah berubah-ubah.

Terlebih lagi dalam hal transaksi atau pembayaran. Adapun salah satu hal yang bisa Anda cermati di sini yaitu regulator mengenai kripto yang tak bisa berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah. Aset kripto memang menjadi salah satu pendongkrak semangat untuk melahirkan rupiah digital.

Di samping itu, perbankan jelas mempunyai motivasi tinggi dalam menciptakan CBDC sebagai pengganti uang fisik. Adapun motivasinya berkaitan dengan pertimbangan efisiensi pembayaran, inklusi keuangan, dan keamanan di mekanisme pembayaran.

Bukan hanya itu saja, upaya penerbitan white paper pengembangan rupiah digital juga karena adanya dukungan sekaligus masukan dari industri. Menyadari hal tersebut, maka rupiah digital dinilai penting untuk dihadirkan demi menjaga ketahanan perbankan.

Menurut Abiwodo, penting untuk dipahami bersama bahwa rupiah CBDC menawarkan beragam manfaat yang berpengaruh terhadap ketahanan perbankan. Setidaknya beberapa manfaat di bawah ini yang akan dirasakan oleh masyarakat.

Dengan hadirnya rupiah digital, harapannya bisa semakin memperkokoh peran BI dalam kancah internasional. Apabila peran BI bisa lebih baik dari sebelumnya, maka semakin mampu melakukan akselerasi integrasi ekonomi keuangan digital nasional.

Selain memperkuat peran BI, apabila nantinya rupiah digital memang benar-benar dihadirkan, kemungkinan besar bisa semakin memberikan kemudahan dalam pembayaran digital. Dalam hal ini, masyarakat akan lebih mudah saat belanja online, membangun bisnis pada ekosistem e-commerce, dan masih banyak lagi.

(das/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT