OVO Buka Suara soal Layanannya Dipakai buat Transaksi Pornografi

ADVERTISEMENT

OVO Buka Suara soal Layanannya Dipakai buat Transaksi Pornografi

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 29 Des 2022 17:36 WIB
Ilustrasi OVO
OVO/Foto: Vanita Dewi Prastiwi
Jakarta -

PT Visionet Internasional (OVO) menanggapi soal dugaan oknum yang memperdagangkan video pornografi dengan pembayaran melalui dompet digital OVO. Pihaknya menduga ada penyalahgunaan layanan transfer antarpengguna untuk memfasilitasi transaksi tersebut.

Communications Manager OVO Andriani Ganeswari mengatakan layanan yang disediakan pihaknya termasuk layanan uang elektronik sepenuhnya disediakan dengan mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"OVO tidak pernah melakukan kerja sama dalam bentuk apapun, baik secara resmi ataupun tidak, dan dengan pihak manapun terkait pemrosesan transaksi yang merupakan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, khususnya penerimaan transaksi pembayaran untuk memfasilitasi perdagangan atau penyebaran konten pornografi," katanya kepada detikcom, Kamis (29/12/2022).

Sebelumnya Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat transaksi Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Child Sexual Abuse (CSA) sepanjang 2022 mencapai Rp 114.266.966.810. Pelaku kebanyakan memperdagangkan video pornografi menggunakan e-wallet salah satunya OVO.

Andriani menyebut bahwa OVO telah bekerjasama dengan PPATK untuk memantau dan mengambil tindakan tegas atas transaksi yang diduga menyalahgunakan layanan perbankan maupun uang elektronik tersebut.

"Sebagai bentuk nyata komitmen kami dalam mendukung upaya pemerintah dan aparat penegak hukum dalam memberantas penyebaran pornografi di Indonesia, kami selalu menyampaikan laporan atas transaksi-transaksi uang elektronik mencurigakan kepada PPATK dan regulator lainnya yang berwenang untuk tujuan kepatuhan dan pemantauan atas layanan pemrosesan transaksi kami," tegasnya.

"OVO tidak mentoleransi segala bentuk penyalahgunaan atas layanan kami dan akan bersikap tegas dalam mengusut hal tersebut demi menciptakan ekosistem keuangan digital yang aman dan berkelanjutan," tambahnya.

(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT