Bitcoin Menguat Saat Timur Tengah Memanas

Bitcoin Menguat Saat Timur Tengah Memanas

Andi Hidayat - detikFinance
Rabu, 25 Mar 2026 11:35 WIB
Ilustrasi bitcoin
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Bitcoin menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Aset kripto itu disebut memiliki ketahanan yang lebih tinggi dibanding instrumen emas dan saham selama ketidakpastian pasar keuangan global.

Berdasarkan data Indodax, Bitcoin menguat sekitar 12% dalam 60 hari terakhir dan diperdagangkan di kisaran US$ 70.000 hingga US$ 71.000 atau sekitar Rp 1,2 miliar (asumsi kurs Rp 16.904) pada perdagangan Selasa (24/3). Sementara emas dan saham tercatat melemah pada periode tersebut.

Indeks S&P 500 misalnya, turun sekitar 4%. Sementara harga emas terkoreksi hingga 16% dan mencatatkan penurunan terbesar sejak 1983 dengan menyentuh level sekitar US 4.400 per ons troi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Vice President Indodax, Antony Kusuma, menjelaskan kondisi ini mendorong meningkatnya perhatian investor terhadap Bitcoin sebagai alternatif lindung nilai di tengah gejolak pasar. Menurutnya, kinerja kuat Bitcoin saat krisis sudah menjadi pola yang pernah terjadi seperti pada krisis pandemi COVID-19, ketegangan AS-Iran 2020, hingga konflik Rusia-Ukraina.

ADVERTISEMENT

"Karakteristik Bitcoin yang terdesentralisasi, dapat diperdagangkan 24 jam, serta tidak bergantung pada sistem perbankan konvensional menjadikannya relevan di tengah terganggunya stabilitas sistem keuangan akibat konflik geopolitik. Hal ini membuat Bitcoin memiliki fungsi praktis sekaligus potensi sebagai alternatif lindung nilai," jelas Antony dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu (25/3/2026).

Kepala Strategi Logam JPMorgan, Greg Shearer, bahkan menyebutkan penurunan harga emas dipicu aksi sell-off di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah yang meningkatkan kekhawatiran inflasi. Selain itu, penguatan dolar AS dan meningkatnya keuntungan obligasi membuat emas kurang menarik dibanding aset imbal hasil.

Di sisi lain, ketegangan Timur Tengah yang berdampak pada jalur distribusi energi global di Selat Hormuz meningkatkan risiko inflasi akibat lonjakan harga minyak. Kondisi ini mendorong penurunan ekspektasi kebijakan The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Imbasnya, emas yang tidak memberikan imbal hasil rutin cenderung kehilangan daya tarik, khususnya bagi investor institusional.

Namun, pasar kripto masih berada dalam fase volatil dengan sentimen yang cenderung berhati-hati. Faktor makro ekonomi seperti inflasi dan kebijakan suku bunga masih akan menjadi penentu arah pergerakan harga ke depan.

"Investor disarankan untuk tetap memperhatikan manajemen risiko dan memahami dinamika pasar secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investas," tutupnya.

Lihat juga Video: Harga Bitcoin Sentuh Rp 1,8 M, Apa Penyebabnya?

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads