Ancaman siber yang terus berkembang membuat keamanan digital menjadi tantangan utama di industri fintech, termasuk maraknya phishing dan pencurian identitas. Untuk mengatasi hal tersebut, PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami) memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang diklaim mampu mencegah penipuan hingga 95%.
Direktur Utama AdaKami Bernardino Moningka Vega mengungkapkan peningkatan kasus pencurian identitas di Indonesia menjadi perhatian serius.
"Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), seperti dikutip dalam whitepaper yang diterbitkan oleh perusahaan identitas dan verifikasi global GBG, selama 2023 terjadi peningkatan kasus pencurian identitas sebanyak 25% di Indonesia, yang menyebabkan kerugian lebih dari Rp 500 miliar. Inilah mengapa keamanan siber merupakan pilar penting bagi keberlangsungan industri," ujarnya dikutip dari situs resmi AdaKami, Jumat (27/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, AdaKami telah mengintegrasikan teknologi AI dalam proses pengajuan pinjaman melalui mekanisme electronic Know Your Customer (e-KYC). Sistem ini mengharuskan calon peminjam mengunggah identitas dan foto diri, yang kemudian diverifikasi melalui pengecekan silang dengan database terpercaya serta dianalisis menggunakan algoritma AI untuk mendeteksi anomali dan potensi penipuan.
Teknologi AI tersebut juga mampu mengidentifikasi gambar atau video yang dimanipulasi, seperti mendeteksi ekspresi tidak wajar, pencahayaan yang tidak sesuai, hingga inkonsistensi bingkai. Selain itu, perusahaan juga rutin menggelar edukasi kepada pengguna terkait perlindungan data pribadi.
(akn/ega)











































