Harga Bitcoin kembali tertekan pada perdagangan Jumat (8/5/2026) kemarin. Sepanjang 24 jam perdagangan, Biro tercatat melemah 2,28% ke level US$ 79.637,54 atau sekitar Rp 1,38 miliar (asumsi kurs Rp 17.377) pada Jumat.
Kemudian saat ini, harga Bitcoin kembali naik di level US$ 80.358,81 atau sekitar Rp 1,39 miliar berdasarkan data perdagangan Coinmarketcap Sabtu (9/6). Volatilitas harga ini terjadi imbas risiko geopolitik global di Timur Tengah.
Penurunan harga yang terjadi pada Jumat, kuat dipengaruhi oleh keputusan Iran yang menolak proposal perdamaian dari Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri konflik. Peristiwa ini disambut dengan tingginya aksi jual di berbagai aset berisiko, termasuk kripto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara dari segi fundamental, aset kripto tercatat tumbuh dengan baik. Dalam 24 jam terakhir, pergerakan Bitcoin sejalan dengan indeks S&P 500 sebesar 76% dan emas sebesar 59%.
"Penurunan Bitcoin ke area US$79.000 lebih disebabkan oleh lonjakan risiko geopolitik setelah Iran menolak proposal perdamaian dari Amerika Serikat. Ini memicu sentimen risk-off di pasar global, sehingga investor cenderung keluar sementara dari aset berisiko, termasuk kripto," ujar Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, dalam keterangan tertulisnya, dikutip Sabtu (9/5/2026).
Dari sisi teknikal, tekanan terhadap Bitcoin diperbesar oleh likuidasi posisi long yang menggunakan leverage tinggi. Dalam 24 jam terakhir, tercatat sekitar US$ 97,53 juta posisi Bitcoin terlikuidasi, dengan mayoritas berasal dari posisi long. Di saat yang sama, ETF Bitcoin spot di AS juga mencatat net outflow sekitar US$ 268,5 juta pada 8 Mei 2026.
"Aksi jual yang terjadi bukan hanya berasal dari pasar spot, tetapi juga diperparah oleh likuidasi di pasar derivatif. Ketika banyak posisi long menggunakan leverage tinggi, penurunan harga kecil saja bisa memicu likuidasi berantai dan mempercepat tekanan jual," jelasnya.
Adapun sebelumnya, Bitcoin diprediksi dapat menembus harga US$ 82.800 atau sekitar Rp 1,43 miliar. Namun saat ini, harga Bitcoin justru turun dari level yang ditargetkan.
Namun jika level saat ini dapat dipertahankan, harga Bitcoin masih berpeluang mencapai US$ 82.800. Sebaliknya jika Bitcoin turun menembus level US$ 78.000, terdapat ruang koreksi hingga US$ 76.300 atau sekitar Rp 1,32 miliar.
"Area US$ 78.500 sampai US$ 78.000 menjadi zona yang sangat krusial untuk Bitcoin dalam jangka pendek. Selama level ini bertahan, peluang rebound ke US$ 82.800 masih terbuka. Tetapi jika tembus ke bawah, pasar bisa melihat koreksi lanjutan ke area US$ 76.300," jelasnya.
Peluang Harga Bitcoin Terbang
Fyqieh menjelaskan, tercatat aliran dana institusional ke pasar kripto yang menunjukkan tren penguatan. Pada April 2026, net inflow ke ETF Bitcoin spot AS mencapai US$ 2,44 miliar, menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini.
Secara kumulatif sejak 2024, total inflow ETF Bitcoin spot telah mencapai US$ 58,5 miliar, dengan total aset kelolaan sekitar US$ 102 miliar. Kemudian BlackRock's IBIT juga tercatat masih memiliki kepemilikan sekitar 812.000 BTC atau setara US$ 62 miliar.
Sementara itu, Morgan Stanley's MSBT yang baru diluncurkan berhasil menarik dana sekitar US$ 163 juta hanya dalam enam hari pertama. Sedangkan dari sisi on-chain, sinyal akumulasi juga masih terlihat.
Wallet dengan kepemilikan lebih dari 1.000 BTC tercatat mengakumulasi sekitar 270.000 BTC dalam 30 hari terakhir. Cadangan Bitcoin di exchange juga turun ke level terendah dalam tujuh tahun, yang menandakan investor lebih memilih menyimpan aset daripada menjualnya.
Ke depan, Fyqieh mengatakn pasar akan mencermati sejumlah katalis penting, termasuk perkembangan konflik AS dan Iran, data aliran dana ETF mingguan, serta arah kebijakan suku bunga The Fed.
Selain itu, rencana pembahasan regulasi kripto di AS, termasuk Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY) yang dijadwalkan masuk agenda pemungutan suara Senat pada Juni 2026, juga menjadi sentimen positif bagi pasar.
Untuk proyeksi jangka pendek, Bitcoin perlu kembali menembus dan bertahan di atas US$ 82.000 untuk membuka peluang penguatan lanjutan. Jika momentum membaik, target teknikal berikutnya berada di kisaran US$ 90.000 hingga US$ 98.000 atau sekitar Rp 1,70 miliar.
"Momentum bullish mulai terbentuk, likuiditas mulai kembali, namun pasar masih sangat bergantung pada kondisi makro dan geopolitik global," pungkasnya.
(hns/hns)










































