×
Ad

Bitcoin Melesat Usai Pengumuman Suku Bunga AS

Andi Hidayat - detikFinance
Kamis, 17 Sep 2026 22:00 WIB
Ilustrasi.Foto: DW (News)
Jakarta -

Harga Bitcoin (BTC) bergerak naik dari kisaran US$ 75.400 atau sekitar Rp 1,33 miliar (asumsi kurs Rp 17.746) usai kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Setelah pengumuman tersebut, harga BTC naik ke area US$ 76.000 atau sekitar Rp 1,34 miliar pada Kamis (17/9/2026).

Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, menilai kondisi ini mencerminkan antisipasi pasar. Namun ia mengingatkan, keterkaitan kebijakan makroekonomi dan harga aset kripto tidak selalu berlangsung secara langsung.

Berdasarkan hasil Federal Open Market Committee (FOMC), suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75%-4,00%.

"Kebijakan suku bunga tetap menjadi faktor penting, tetapi bukan satu-satunya penggerak pasar kripto. Reaksi harga juga dipengaruhi oleh ekspektasi yang sudah terbentuk sebelumnya, arus dana, sentimen, serta perkembangan spesifik di industri kripto. Dalam kondisi ini, kenaikan suku bunga sudah banyak diantisipasi, sehingga sebagian dampaknya kemungkinan telah tercermin pada harga sebelum keputusan diumumkan," jelasnya dalam keterangan tertulis, Kamis (17/9/2026).

Menjelang keputusan FOMC, Aloysia menjelaskan pasar sudah memperkirakan peluang kenaikan suku bunga cukup besar. Karena hasilnya sesuai dengan ekspektasi, sebagian tekanan pasar sudah tercermin bahkan sebelum pengumuman.

Artinya, keputusan yang sebelumnya sudah diantisipasi tidak serta-merta memicu tekanan tambahan. Namun meski Bitcoin menguat setelah pengumuman, arah kebijakan The Fed masih menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati pasar.

Proyeksi terbaru menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga hingga akhir 2026. Di saat yang sama, proyeksi inflasi 2026 dinaikkan menjadi 3,7% dari sebelumnya 3,6%, sedangkan proyeksi pertumbuhan ekonomi naik menjadi 2,3%.

Aloysia menilai, fokus The Fed masih tertuju pada pengendalian inflasi. Namun, arah kebijakan berikutnya belum ditentukan dan akan tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi.

Karena itu, pasar perlu melihat kebijakan The Fed sebagai salah satu bagian dari konteks yang lebih luas, bersama faktor likuiditas, arus dana, sentimen, dan perkembangan di industri kripto. Aloysia menilai, kondisi tersebut membuat investor perlu melihat pergerakan Bitcoin setelah FOMC secara lebih proporsional.

"Penguatan Bitcoin setelah FOMC perlu dilihat sebagai dinamika pasar yang lebih luas, bukan sebagai tanda bahwa seluruh risiko telah mereda. Investor tetap perlu mencermati arah inflasi, kebijakan The Fed berikutnya, arus dana institusional, dan kondisi likuiditas global," tambahnya.

Di sisi lain, investor juga perlu mencermati faktor khusus di industri kripto, seperti arus ETF Bitcoin, perkembangan regulasi aset digital, sentimen pasar, dan penggunaan leverage. Faktor-faktor tersebut membuat pergerakan aset kripto memiliki karakteristik yang berbeda dari aset berisiko lainnya.

Indodax mengingatkan investor agar tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan pergerakan harga sesaat. Investor perlu menyesuaikan investasi dengan profil risiko, mengelola posisi dengan disiplin, dan melakukan riset sendiri sebelum bertransaksi.




(ahi/hns)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork