Harga Bitcoin Meroket Tembus US$ 80.000

Harga Bitcoin Meroket Tembus US$ 80.000

Retno Ayuningrum - detikFinance
Kamis, 05 Nov 2026 21:24 WIB
Harga Emas dan Bitcoin Terus Naik, Apa Penyebabnya?
Ilustrasi.Foto: DW (News)
Jakarta -

Harga Bitcoin kembali menembus US$ 80.000 setelah mengalami tekanan pada akhir Oktober. Berdasarkan data pada CoinMarketCap, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 80.500-US$ 80.700, naik lebih dari 6% dalam 24 jam.

Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, menilai pergerakan positif ini menunjukkan mulai membaiknya minat pelaku pasar setelah periode penuh ketidakpastian. Pergerakan ini dinilai sebagai indikasi positif pemulihan sentimen pasar, meskipun keberlanjutannya masih dipengaruhi oleh perkembangan data ekonomi global.

"Penguatan ini menjadi perkembangan positif karena menunjukkan pasar mulai merespons kejelasan situasi global. Kami melihat adanya momentum pemulihan, tetapi kenaikan dalam satu atau dua hari belum cukup untuk memastikan arah pasar dalam jangka panjang. Investor tetap perlu memperhatikan likuiditas dan perkembangan data ekonomi," ujarnya dalam keterangan, Kamis (5/11/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, penguatan Bitcoin berlangsung seiring pasar mencermati hasil midterm election di Amerika Serikat. Perubahan komposisi politik setelah kemenangan Partai Demokrat AS menjadi perhatian pelaku pasar dalam menilai proses pembahasan dan arah kebijakan ekonomi serta regulasi ke depan.

Pelaku pasar juga memantau bagaimana perkembangan tersebut dapat membantu untuk menjaga tekanan inflasi dan suku bunga, minat terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Namun, dampaknya tidak serta merta berarti menghilangkan seluruh risiko, sehingga perkembangan kebijakan dan volatilitas pasar tetap perlu dicermati.

ADVERTISEMENT

Di sisi regulasi, perhatian turut tertuju pada kelanjutan pembahasan regulasi kripto, termasuk CLARITY Act serta usulan terkait perluasan peran pengawasan Securities and Exchange Commission (SEC) dan penguatan perlindungan investor. Usulan tersebut masih dalam tahap pembahasan, sehingga bentuk akhir aturan dan implikasinya belum dapat dipastikan.

Laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat tak luput jadi perhatian. Data tersebut dapat mempengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed, yang selanjutnya turut menentukan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.

Di dalam negeri, partisipasi masyarakat dalam ekosistem kripto terus berkembang. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terbaru, jumlah investor kripto mencapai sekitar 23,48 juta pada September 2026, tumbuh sekitar 1,16%. Total nilai transaksi pada September 2026 juga tercatat mencapai Rp 30,56 triliun, naik sekitar 31,95% dari bulan sebelumnya.

Aloysia menambahkan bahwa peningkatan aktivitas pasar perlu diimbangi dengan literasi agar konsumen dapat menyikapi pemulihan harga secara terukur dan rasional.

"Pertumbuhan partisipasi masyarakat perlu diikuti pemahaman yang semakin baik. Momentum pemulihan sebaiknya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi strategi, bukan alasan mengambil keputusan karena takut tertinggal (FOMO). Investor perlu melakukan riset mandiri, memahami aset yang dipilih, dan mengatur alokasi sesuai kemampuan menanggung risiko," tambahnya.

(rea/hns)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads