Foto Bisnis

Begini Kiat Enggartiasto Pulihkan Krisis Ekonomi

Pool - detikFinance
Minggu, 28 Jun 2020 04:25 WIB

Jakarta - Tekanan ekonomi akibat pandemi COVID-19 begitu mendalam. Krisis yang diakibatkan bahkan jauh lebih parah ketimbang krisis ekonomi yang pernah terjadi sebelumnya

Tekanan ekonomi akibat pandemi COVID-19 begitu mendalam. Krisis yang diakibatkan bahkan jauh lebih parah ketimbang krisis ekonomi yang pernah terjadi sebelumnya.

Jika krisis terdahulu hanya memukul sisi permintaan, maka saat ini yang terpukul adalah sisi permintaan dan penawaran sekaligus.
Demikian dikatakan Menteri Perdagangan 2016-2019 Enggartiasto Lukita saat menyampaikan keynote speech dalam acara webinar bertajuk Entepreneurship: Making a Difference in this New Era, yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Universitas Prasetiya Mulya (IKAPRAMA), Sabtu (27/6). Foto: dok. Pribadi

Tekanan ekonomi akibat pandemi COVID-19 begitu mendalam. Krisis yang diakibatkan bahkan jauh lebih parah ketimbang krisis ekonomi yang pernah terjadi sebelumnya.

Acara ini diprakarsai Juan Permata Adoe, Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, sekaligus salah satu kandidat ketua umum Ikatan Alumni Universitas Prasetya Mulia (Ikaprama). Beberapa nara sumber yang ada yakni CEO Sintesa Group, Shinta Kamdani; Vice CEO Pan Brothers Tbk, Anne Patricia Sutanto; Founder & CEO SADA, Chaty Sharon; dan Juan Permata Adoe. Foto: dok. Pribadi

Pandemi COVID-19 memukul ekonomi global. Hampir semua negara mengalami kontraksi ekonomi. Menurut prediksi Bank Dunia, hingga akhir tahun 2020 diperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) global akan mengalami kontraksi atau tumbuh negatif 5,2 persen. Artinya, ekonomi global mengalami resesi terburuk dalam sejarah sejak Perang Dunia II.

Karena yang terpukul adalah penawaran dan permintaan sekaligus, maka ekonomi semua negara mengalami kontraksi. Ekonomi global diperkirakan menyusut 3%, ekonomi negara maju akan mengalami penurunan 6,1%, dan ekonomi negara berkembang tumbuh hanya 1% pada 2020. “Ekonomi Jerman diperkirakan anjlok 7%, AS 5,9%, dan Jepang 5,2%. Sementara itu, Cina dan India diperkirakan tumbuh hanya antara 1,2-1,9%,” kata Enggar. Kontraksi ekonomi juga terjadi di Indonesia. Dalam skenario terbaik, ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh maksimal 0,5% pada 2020. Pada kuartal pertama tahun ini ekonomi masih mencatat pertumbuhan 2,97%, namun pada kuartal kedua, diprediksi akan tumbuh merosot 3,1 - 3,8%. Foto: dok. Pribadi

Begini Kiat Enggartiasto Pulihkan Krisis Ekonomi
Begini Kiat Enggartiasto Pulihkan Krisis Ekonomi
Begini Kiat Enggartiasto Pulihkan Krisis Ekonomi