Tangerang Selatan - Pasar Tekstil Cipadu di Tangerang Selatan kehilangan denyut transaksi akibat melemahnya produksi dan pergeseran belanja ke platform daring.
Foto Bisnis
Dulu Ramai Jadi Primadona Penjualan Tekstil, Kini Pasar Cipadu Kian Sepi
Suasana ruko - ruko kosong di Pasar Tekstil Cipadu, Tangerang Selatan, Banten, Senin (19/1/2026).
Pasar Tekstil Cipadu di Tangerang Selatan, Banten, yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai pusat perdagangan kain dan tekstil, kini tampak kehilangan denyut transaksinya.
Aktivitas jual beli yang dulu ramai kini kian melambat, seiring melemahnya produksi industri tekstil dan pergeseran pola belanja masyarakat ke platform daring.
Para pedagang mengaku kondisi pasar belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Permintaan yang menurun membuat mereka kesulitan menghabiskan stok, sementara arus kas terus tertekan akibat rendahnya volume penjualan.
Kelesuan ini tak lepas dari turunnya aktivitas produksi di sektor tekstil dan garmen. Sejumlah pabrik disebut mengurangi kapasitas produksi, bahkan ada yang menghentikan operasional sementara. Dampaknya, kebutuhan bahan baku ikut menyusut, sehingga rantai pasok dari hulu hingga hilir semakin melemah.
Selain faktor produksi, pergeseran perilaku belanja masyarakat ke platform daring juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak pembeli, terutama pelaku usaha kecil dan menengah, kini memilih mencari bahan tekstil melalui marketplace karena dinilai lebih praktis dan menawarkan harga yang lebih kompetitif.
Tekanan terhadap industri tekstil nasional juga datang dari dinamika global. Kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang berpotensi menaikkan bea masuk produk tekstil dikhawatirkan akan menekan daya saing produk Indonesia di pasar internasional. Situasi tersebut membuat pelaku industri harus bekerja ekstra untuk mempertahankan pangsa pasar ekspor di tengah persaingan yang semakin ketat.
Lorong pasar yang biasanya penuh lalu lalang kini tampak lebih lengang, dengan sebagian kios hanya melayani pembeli dalam jumlah terbatas.
Di tengah kondisi tersebut, wacana pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) khusus tekstil mulai mencuat. Danantara disebut tengah menyiapkan investasi sekitar USD 6 miliar atau setara Rp 101 triliun untuk mengembangkan industri tekstil nasional. Investasi ini ditargetkan mampu mendorong nilai ekspor tekstil Indonesia dari sekitar USD 4 miliar menjadi USD 40 miliar dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.











































