Jakarta - Di tengah gempuran industrialisasi, lio bata merah Cibarusah tetap menjaga bara tradisi, meski lahan kian menipis dan generasi penerus makin langka.
Picture Story
Menjaga Bara Terakhir Lio Cibarusah
Kebutuhan batu bata di wilayah Jabodetabek selama puluhan tahun banyak disokong oleh lio-lio di Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Lio adalah pabrik bata merah tradisional ini telah beroperasi sejak 1980-an dan menjadi usaha turun-temurun warga setempat.
Bangunan lio umumnya berdiri di tepi persawahan dengan atap limas yang menjulur hingga ke bawah, berfungsi melindungi bata basah agar tidak rusak saat hujan.
Sejak pagi, para pekerja sibuk menjalankan tahapan produksi yang panjang. Proses dimulai dari menggali tanah sebagai bahan baku, mencetak bata, menjemur secara bertahap, membakar menggunakan kayu bakar, hingga mengangkutnya ke truk pengiriman.
Untuk satu kali siklus produksi dibutuhkan waktu sekitar satu bulan. Kapasitas tiap lio berbeda-beda, mulai dari 5.000 hingga puluhan ribu bata per hari, tergantung ketersediaan tanah dan jumlah pekerja.
Salah satu lio yang masih bertahan adalah milik Retno (64). Usaha tersebut dirintis almarhum suaminya pada Februari 2011 di atas lahan sekitar dua hektare yang sebelumnya merupakan sawah. Dengan lima pekerja, lio miliknya mampu mencetak sekitar 5.000 bata basah per hari. Setelah melalui proses pengeringan dan pembakaran selama dua hari dua malam serta pendinginan, bata dijual sekitar Rp530 per buah, belum termasuk ongkos angkut.
Distribusi bata merah dari Cibarusah menjangkau berbagai wilayah seperti Jakarta, Depok, Puncak, hingga Tangerang. Bata merah banyak digunakan untuk proyek dan perumahan karena dinilai lebih kokoh. Meski kini bata ringan atau hebel semakin marak, bata merah masih memiliki pasar tersendiri.
Namun, keberadaan lio di Cibarusah kian menyusut dalam beberapa tahun terakhir. Sejak sekitar 2018, sejumlah lio berhenti beroperasi akibat keterbatasan tanah galian serta tidak adanya penerus setelah pemilik meninggal dunia. Industrialisasi dan pembangunan perumahan juga turut menggerus lahan produksi.
Padahal, satu lio mampu menyerap tenaga kerja warga sekitar. Abdul Rozak (38) menjadi salah satu pekerja yang masih bertahan, bahkan telah tiga kali berpindah lio demi tetap bekerja. Bukan hanya pria, pekerja wanita juga turut andil dalam pembuatan sampai mengangkut ke truk. Sejumlah perempuan seperti Manah (30), Yayah (51), dan Onih (60) juga terlibat membantu proses pengangkutan bata ke truk.
Ketergantungan pada tanah sebagai bahan baku membuat usaha ini tidak bisa berlangsung selamanya. Jika lahan habis digali, produksi otomatis berhenti. Lahan bekas galian biasanya kembali dijadikan sawah. Di tengah tekanan industrialisasi dan menyusutnya bahan baku, lio-lio bata merah di Cibarusah kini menghadapi masa depan yang semakin tidak pasti.
Abdul Rozak (38) menunjukkan ototnya dengan batu bata di lio Cibarusah, Kabupaten Bekasi. Pekerjaan berat yang dilakukan sehari-hari membuatnya memiliki badan berotot tanpa harus pergi ke tempat kebugaran.











































