Jakarta - APBN per 31 Januari 2026 defisit Rp54,6 triliun. Pendapatan Rp172,7 triliun masih di bawah belanja Rp227,3 triliun.
Foto Bisnis
Awal Tahun, APBN 2026 Catat Defisit Rp54,6 Triliun
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memberikan konferensi pers APBNKita di gedung Kemenkeu, Jakarta, Senin (23/2/2026). Purbaya melaporkan APBN sudah mengalami defisit Rp 54,6 triliun per 31 Januari 2026.
Defisit APBN itu berarti pendapatan negara lebih kecil dibanding jumlah pengeluaran atau belanja negara. Tercatat pendapatan negara sampai 31 Januari 2026 mencapai Rp 172,7 triliun atau 5,5% dari target (tumbuh 9,5% yoy), sementara belanja negara terealisasi sebesar Rp 227,3 triliun atau 5,9% dari target (tumbuh 25,7% yoy). Β
Pendapatan negara yang terkumpul Rp 172,7 triliun berasal dari penerimaan pajak Rp 116,2 triliun atau tumbuh 30,7%, kepabeanan dan cukai Rp 22,6 triliun, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp 33,9 triliun. Β
Sementara itu, belanja negara yang mencapai Rp 227,3 triliun berasal dari belanja pemerintah pusat yakni Rp 131,9 triliun, serta transfer ke daerah Rp 95,3 triliun. Β
Tercatat defisit keseimbangan primer mencapai Rp 4,2 triliun.Β Β
Purbaya mengklaim APBN 2026 tetap berfungsi optimal sebagai shock absorber sekaligus motor penggerak ekonomi. Β











































