Jakarta - Lonjakan harga plastik hingga 30 persen dorong aktivitas pengepul di Tanjung Priok, pemulung pun kecipratan peluang peningkatan penghasilan.
Foto Bisnis
Harga Plastik Melonjak di Tengah Gejolak Global
Kamis, 30 Apr 2026 08:08 WIB
Sejumlah pekerja menimbang dan membongkar sampah plastik di salah satu pengepul kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.Β Aktivitas yang biasanya berjalan rutin kini menunjukkan geliat berbeda, seiring meningkatnya nilai ekonomis limbah plastik di tengah dinamika global yang memengaruhi industri bahan baku.
Kenaikan harga sampah plastik ini tidak lepas dari dampak konflik di kawasan Timur Tengah yang memicu lonjakan harga bahan baku petrokimia, termasuk naftaβkomponen utama dalam produksi plastik. Ketergantungan industri terhadap pasokan energi dan bahan baku impor membuat efek domino terasa hingga ke sektor informal seperti pengepul dan pemulung.
Sejak 1 April 2026, harga sampah plastik mengalami kenaikan signifikan hingga 30 persen. Jika sebelumnya plastik dihargai sekitar Rp5.000 per kilogram, kini melonjak menjadi Rp8.000 per kilogram. Perubahan ini langsung dirasakan para pelaku usaha daur ulang, termasuk pekerja di tingkat bawah yang setiap hari bergelut dengan limbah.
Di lapangan, para pekerja tampak lebih bersemangat memilah dan menimbang plastik yang masuk. Tumpukan botol bekas, kantong plastik, hingga kemasan sekali pakai menjadi komoditas yang semakin dicari. Aktivitas bongkar muat pun meningkat karena permintaan dari pabrik daur ulang terus bertambah.
Kenaikan harga ini memberikan angin segar bagi para pengepul. Pendapatan yang sebelumnya stagnan kini mengalami peningkatan, meskipun di sisi lain mereka juga menghadapi tantangan dalam menjaga pasokan tetap stabil. Persaingan antar pengepul pun mulai terasa lebih ketat.
Bagi para pemulung, kondisi ini menjadi peluang untuk meningkatkan penghasilan harian. Banyak dari mereka kini lebih selektif dalam mengumpulkan sampah, dengan fokus pada jenis plastik bernilai tinggi seperti PET dan HDPE. Nilai jual yang lebih tinggi memberi harapan baru di tengah tekanan ekonomi.
Namun demikian, kenaikan harga ini juga mencerminkan ketidakstabilan pasar global. Ketergantungan pada bahan baku fosil membuat industri plastik sangat rentan terhadap konflik geopolitik. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh industri besar, tetapi juga menjalar hingga ke sektor informal.
Para pelaku industri daur ulang mulai menyesuaikan strategi, termasuk meningkatkan efisiensi dan memperluas jaringan pasokan. Beberapa pengepul bahkan mulai menjalin kerja sama langsung dengan sumber-sumber sampah untuk memastikan ketersediaan bahan baku tetap terjaga.
Β
Di sisi lain, kondisi ini turut mendorong kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Plastik yang sebelumnya dianggap limbah kini semakin dipandang sebagai sumber daya bernilai ekonomi tinggi yang dapat dimanfaatkan kembali.
Β
Dengan situasi global yang masih dinamis, para pelaku di sektor ini terus beradaptasi. Kenaikan harga sampah plastik menjadi cerminan bagaimana isu internasional dapat berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari, sekaligus membuka peluang baru dalam pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular di tingkat lokal.
Β











































