Jakarta - Industri makanan dan minuman masih tumbuh positif, namun pelemahan rupiah, ketergantungan impor, dan kenaikan biaya produksi menjadi tantangan utama.
Foto Bisnis
Industri Mamin Hadapi Tekanan Kurs dan Kenaikan Biaya Produksi
Kamis, 04 Jun 2026 17:30 WIB
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria memaparkan penguatan struktur industri, pengembangan hilirisasi, serta peningkatan daya saing sektor makanan-minuman lewat pernyataannya di Jakarta, Kamis (4/6/2026). Sektor ini berkontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto nasional. Tetapi, industri makanan-minuman masih menghadapi berbagai tantangan struktural. Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor utama yang meningkatkan biaya produksi.
Â
Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM) Triyono Prijosoesilo menilai bahwa meskipun industri makanan dan minuman masih mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2025 sebesar 6,38 persen, pertumbuhan tersebut masih berada di bawah level pra-pandemi yang sebelumnya dapat mencapai kisaran 7â9 persen.
Â
Tantangan operasional pelaku usaha kian diperparah oleh kenaikan biaya produksi akibat tingginya ketergantungan pada impor bahan baku maupun kemasan di tengah fluktuasi kurs. Berdasarkan data inflasi per April 2026, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,06 persen (year-on-year), angka yang berada di atas tingkat inflasi umum nasional sebesar 2,42 persen.
Â
Â











































