Tinggalkan Status Karyawan, Kini Tekuni Bisnis Budidaya Ikan Nila

Picture Story

Tinggalkan Status Karyawan, Kini Tekuni Bisnis Budidaya Ikan Nila

Ari Saputra - detikFinance
Minggu, 11 Okt 2026 08:55 WIB

Jakarta - Meninggalkan pekerjaan kantoran, pendiri Makanila mengembangkan budidaya ikan nila berbasis bioflok di Bogor dan memanfaatkan AI untuk mengatur pakan.

Lepas dari rutinitas 'budak' korporat, Lucky Pransisca memilih menepi di pinggiran Jakarta, tepatnya di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat. Ia beralih menjadi petani ikan nila dengan modal awal Rp 200 juta pada awal 2024. Perlahan, pria asal Bandung tersebut menikmati kehidupan barunya dengan lebih pelan dan tanpa tekanan. Meski belum sebesar penghasilan saat menjadi karyawan kantoran, ia menyatakan lebih sehat secara mental dengan sisi kehidupan yang lebih berkualitas. Dia menyebut fase tersebut sebagai slow living.

Founder Makanila, Lucky Pransisca memberi pakan untuk ikan nila dengan metode biofolk, Bogor, Jawa Barat. Lucky memilih untuk bertani dengan meninggalkan status karyawan.

Lepas dari rutinitas 'budak' korporat, Lucky Pransisca memilih menepi di pinggiran Jakarta, tepatnya di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat. Ia beralih menjadi petani ikan nila dengan modal awal Rp 200 juta pada awal 2024. Perlahan, pria asal Bandung tersebut menikmati kehidupan barunya dengan lebih pelan dan tanpa tekanan. Meski belum sebesar penghasilan saat menjadi karyawan kantoran, ia menyatakan lebih sehat secara mental dengan sisi kehidupan yang lebih berkualitas. Dia menyebut fase tersebut sebagai slow living.

Lucky Pransisca mencatat kebutuhan pakan dan manajemen pangan untuk bubidaya ikan nila yang ia kembangkan. Saat ini ia mengandalkan teknologi Ai untuk menghitung dan membuat simulasi manajemen pakan.

Lepas dari rutinitas 'budak' korporat, Lucky Pransisca memilih menepi di pinggiran Jakarta, tepatnya di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat. Ia beralih menjadi petani ikan nila dengan modal awal Rp 200 juta pada awal 2024. Perlahan, pria asal Bandung tersebut menikmati kehidupan barunya dengan lebih pelan dan tanpa tekanan. Meski belum sebesar penghasilan saat menjadi karyawan kantoran, ia menyatakan lebih sehat secara mental dengan sisi kehidupan yang lebih berkualitas. Dia menyebut fase tersebut sebagai slow living.

Pekerja menyortir ikan nila yang siap panen di pusat ikan nila segar dan marinasi, Makanila Bogor, Jawa Barat. Makanila mengajukan sejumlah lisensi pendukung untuk mengembangkan usahanya seperti sertifikasi halal dari pemerintah dan tengah memasuki tahap finalisasi. Sertifikat tersebut berguna untuk syarat memasuki ritel modern hingga restauran mapan.

Lepas dari rutinitas 'budak' korporat, Lucky Pransisca memilih menepi di pinggiran Jakarta, tepatnya di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat. Ia beralih menjadi petani ikan nila dengan modal awal Rp 200 juta pada awal 2024. Perlahan, pria asal Bandung tersebut menikmati kehidupan barunya dengan lebih pelan dan tanpa tekanan. Meski belum sebesar penghasilan saat menjadi karyawan kantoran, ia menyatakan lebih sehat secara mental dengan sisi kehidupan yang lebih berkualitas. Dia menyebut fase tersebut sebagai slow living.

Ikan nila segar dijaring dari kolam secara berkala untuk memenuhi pesanan. Selain itu, masa panen saat 3 hingga 4 bulan pasca penyebaran benih ikan nila. Ia mendapatkan keuntungan bersih pada kisaran Rp 6.000/kg ikan nila.

Lepas dari rutinitas 'budak' korporat, Lucky Pransisca memilih menepi di pinggiran Jakarta, tepatnya di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat. Ia beralih menjadi petani ikan nila dengan modal awal Rp 200 juta pada awal 2024. Perlahan, pria asal Bandung tersebut menikmati kehidupan barunya dengan lebih pelan dan tanpa tekanan. Meski belum sebesar penghasilan saat menjadi karyawan kantoran, ia menyatakan lebih sehat secara mental dengan sisi kehidupan yang lebih berkualitas. Dia menyebut fase tersebut sebagai slow living.

Ikan nila yang dipesan langsung dijaring dan siap dibersihkan. Pembangunan pengolahan ikan dengan standar industri yang lebih bersih dan higienis memasuki tahap akhir dan bakal menggantikan sistem konvensional ini.

Lepas dari rutinitas 'budak' korporat, Lucky Pransisca memilih menepi di pinggiran Jakarta, tepatnya di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat. Ia beralih menjadi petani ikan nila dengan modal awal Rp 200 juta pada awal 2024. Perlahan, pria asal Bandung tersebut menikmati kehidupan barunya dengan lebih pelan dan tanpa tekanan. Meski belum sebesar penghasilan saat menjadi karyawan kantoran, ia menyatakan lebih sehat secara mental dengan sisi kehidupan yang lebih berkualitas. Dia menyebut fase tersebut sebagai slow living.

Membersihkan ikan nila dari kotoran dan sisik hingga siap diantar ke konsumen dalam kondisi bersih, segar dan higienis. Ikan nila yang diproduksi di pertanian bifolk Makanila sudah terjual hingga Lampung, Jawa dan Bali.

Lepas dari rutinitas 'budak' korporat, Lucky Pransisca memilih menepi di pinggiran Jakarta, tepatnya di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat. Ia beralih menjadi petani ikan nila dengan modal awal Rp 200 juta pada awal 2024. Perlahan, pria asal Bandung tersebut menikmati kehidupan barunya dengan lebih pelan dan tanpa tekanan. Meski belum sebesar penghasilan saat menjadi karyawan kantoran, ia menyatakan lebih sehat secara mental dengan sisi kehidupan yang lebih berkualitas. Dia menyebut fase tersebut sebagai slow living.

Tumpukan ikan nila yang sudah bersih. Pekerja pembersih ikan mendapatkan upah Rp 2.000/kg. Makanila sedang membangun pusat budidaya ikan lele dan kebon aquaponik untuk membangun ekosistem yang saling melengkapi.

Lepas dari rutinitas 'budak' korporat, Lucky Pransisca memilih menepi di pinggiran Jakarta, tepatnya di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat. Ia beralih menjadi petani ikan nila dengan modal awal Rp 200 juta pada awal 2024. Perlahan, pria asal Bandung tersebut menikmati kehidupan barunya dengan lebih pelan dan tanpa tekanan. Meski belum sebesar penghasilan saat menjadi karyawan kantoran, ia menyatakan lebih sehat secara mental dengan sisi kehidupan yang lebih berkualitas. Dia menyebut fase tersebut sebagai slow living.

Ikan nila dimasukkan ke dalam mesin pendingin sebelum diantarkan ke konsumen. Saat ini Makanila mempunyao 50 kolam biofolk dengan kapasitas panen mencapai 60 kuintal ikan nila segar. Masa panen sekitar 3 bulan sejak penyebaran benih ikan.

Lepas dari rutinitas 'budak' korporat, Lucky Pransisca memilih menepi di pinggiran Jakarta, tepatnya di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat. Ia beralih menjadi petani ikan nila dengan modal awal Rp 200 juta pada awal 2024. Perlahan, pria asal Bandung tersebut menikmati kehidupan barunya dengan lebih pelan dan tanpa tekanan. Meski belum sebesar penghasilan saat menjadi karyawan kantoran, ia menyatakan lebih sehat secara mental dengan sisi kehidupan yang lebih berkualitas. Dia menyebut fase tersebut sebagai slow living.

Tabel manajemen pakan yang dibantu menggunakan teknologi Artifisial Intelegen (Ai). Lucky memasukkan prompt untuk mensimulasikan dan membuat rumus pemberian makan, belanja, budgeting dan analisa pakan untuk hasil yang maksimal. “Kalau hanya di ingat-ingat, suka lupa dan bisa ada yang dikasih pakan berkali-kali, ada yang belum. Dengan bantuan Ai, hasilnya maksimal karena merata dan terkontrol dengan baik,“ katanya.

Tinggalkan Status Karyawan, Kini Tekuni Bisnis Budidaya Ikan Nila
Tinggalkan Status Karyawan, Kini Tekuni Bisnis Budidaya Ikan Nila
Tinggalkan Status Karyawan, Kini Tekuni Bisnis Budidaya Ikan Nila
Tinggalkan Status Karyawan, Kini Tekuni Bisnis Budidaya Ikan Nila
Tinggalkan Status Karyawan, Kini Tekuni Bisnis Budidaya Ikan Nila
Tinggalkan Status Karyawan, Kini Tekuni Bisnis Budidaya Ikan Nila
Tinggalkan Status Karyawan, Kini Tekuni Bisnis Budidaya Ikan Nila
Tinggalkan Status Karyawan, Kini Tekuni Bisnis Budidaya Ikan Nila
Tinggalkan Status Karyawan, Kini Tekuni Bisnis Budidaya Ikan Nila

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads