Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 19 Sep 2017 18:40 WIB

AS Hibahkan Rp 13 Miliar untuk Industri Penerbangan Papua

Prins David Saut - detikFinance
Foto: Prins David Saut
Badung - Pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui United States Trade and Development Agency (USTDA) oleh Boeing memberikan bantuan US$ 1 juta (Rp 13 miliar). Bantuan bersifat hibah itu diperuntukan untuk studi dan pengembangan keselamatan, keamanan dan efisiensi penerbangan di Papua.

"Sekira US$ 1 juta, dana hibah ini belum final karena ini proses besar melalui studi dan hanya temuan awal saja," kata Duta Besar AS untuk Indonesia Joseph R Donovan di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Selasa (19/9/2017).

Joseph menyatakan dana hibah tersebut untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam upaya peningkatan keselamatan penerbangan dan ekonomi di Papua serta Maluku. Dua lokasi di Indonesia bagian timur ini dipilih oleh pemerintah Indonesia karena menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional.

"Hari ini, kita merayakan kemitraan yang baru, USTDA telah memberikan dana hibah dari Boeing. Dana hibah USTDA ini mendukung upaya pemerintah Indonesia untuk peningkatan keselamatan penerbangan dan ekonomi di Papua dan Maluku," ujar Joseph.

Dana hibah itu muncul dari kemitraan Indonesia-AS Aviation Working Group (AWG) yang telah berjalan selama beberapa tahun. Joseph menyatakan AWG telah berkembang melampaui ekspektasi Indonesia-AS dalam bidang aviasi serta infrastrukturnya.

"Ketertarikan kuat dari AS untuk kerjasama meningkatkan aviasi ini terlihat dari sejumlah besar perusahaan asal AS, lebih dari 16 perusahaan, yang hadir. Kami berharap grup ini bisa menjadi platform kerjasama Indonesia-AS. AWG ini dalam beberapa tahun terakhir telah melampaui ekspektasi," ucap Joseph.

Selain belasan perusahaan terkemuka itu, Joseph juga menyebutkan adanya 40 perusahaan asal negeri Paman Sam di Jakarta yang aktif dalam AWG. Joseph meyakini perusahaan-perusahaan tersebut mampu memberikan kontribusinya secara optimal dalam menjawab tantangan aviasi di Indonesia bagian timur.

"Jadi kami mendukung pemerintah Indonesia untuk mencapai prioritas mereka. Ada dua alasan, pertama yakni AS menganggap serius kemitraan strategis dengan Indonesia, salah satunya adalah pengembangan aviasi di Indonesia. Alasan kedua adalah perusahaan-perusahaan asal AS itu memiliki banyak hal yang ditawarkan dalam bidang aviasi tersebut dan memiliki keinginan untuk mendukung," ungkap Joseph.

Menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara (Hubud) Agus Santoso, dana hibah itu akan disalurkan melalui kajian atas permasalahan aviasi yang ada di dua wilayah tersebut.

"Dari hibah ini akan ada suatu kajian maupun riset terjadap permasalahan-permasalahan keselamatan penerbangan di Papua," kata Agus.

Agus menambahkan, ada beberapa alokasi dana hibah yang tidak bisa disebutkan ke publik karena alasan keamanan. Namun diberikan contoh seperti material pesawat, teknologi navigasi maupun keamanan siber terkait aviasi.

"Ada beberapa yang tidak boleh terlalu diekspos karena berkaitan dengan keamanan. Ancaman keamanan itu masuk di berbagai hal, termasuk material yang digunakan pesawat. Jadi tidak bisa kami jelaskan semua," ujar Agus.

Walau demikian, Agus menyatakan studi lebih lanjut bekerja sama dengan AS melalui riset aviasi di Papua termasuk dalam alokasi hibah tersebut. Ia memberikan contoh seperti riset pengembangan material pesawat untuk meminimalisir ancaman terhadap keselamatan penerbangan dan peningkatan kapasitas bandara-bandara di Papua..

"Kalau landasan, sekarang cukup untuk didarati pesawat yang beroperasi saat ini. Tapi konektivitas di dalam Papua atau tempat lain maka traffic berkembang dan tentunya ukuran pesawat juga berkembang dan membutuhkan runway yang lebih panjang. Ini semua kita lakukan untuk fisik runway termasuk alat-alat navigasi untuk peningkatan keselamatan," ucap Agus. (vid/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com