Pemerintah pastikan akan mengambil kepemilikan PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) seharga nilai buku perusahaan pelat merah tersebut. Saat ini nilai buku itu masih dalam proses audit.
Β Β
"Pemerintah akan mengambil sebesar nilai buku. Tidak akan memperpanjang kontrak (dengan Jepang). Ada surat yang telah disampaikan sekitar sebulan yang lalu, sekitar tanggal 25 Oktober," ujar Direktur BMN II Ditjen Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Arif Baharudin saat ditemui di Kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (17/12/2010).Β
Menurut Arif, saat ini nilai buku itu masih dalam proses audit. Namun, diperkirakan pada tahun 2013 nilai buku perusahaan ini senilai US$ 1,229 miliar yang 58,87% merupakan kepemilikan Jepang.
"Nilai buku pastinya masih perlu due dilligence, tapi menurut proyeksi nilai buku Inalum di tahun 2013 saat pengambilalihan sekitar US$ 1.229 juta. Sekitar separuhnya adalah cash. Nilai pengambilalihan sesuai porsi kepemilikan Jepang 58,88%," ujarnya.
Sebelumnya, pemerintah merasa tidak membutuhkan bantuan Jepang lagi untuk mengurus operasional perusahaan ini karena Indonesia merasa sudah berpengalaman menangani Inalum selama 30 tahun ini.
"Inalum sudah memiliki track record yang panjang selama 30 tahun. Manajemennya pun cukup aktif yang ditangani putera-puteri Indonesia. Jika saja masa 30 tahun tersebut sudah lewat sampai 2013 nanti, mereka pun siap untuk meneruskan," tutur Menteri BUMN Mustafa Abubakar beberapa waktu lalu.
Seperti diketahui Inalum merupakan sebuah perusahaan patungan antara Indonesia dengan Jepang, yang bergerak dalam industri aluminium dengan kapasitas produksi sekitar 230.000-240.000 ton per tahun.
Inalum merupakan satu-satunya perusahaan lokal yang bergerak di sektor produksi aluminium. Selama ini, hasil produksi Inalum sebagian besar dikirim ke Jepang, dan Indonesia sendiri harus mengimpor alumunium dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Β Β
"Pemerintah akan mengambil sebesar nilai buku. Tidak akan memperpanjang kontrak (dengan Jepang). Ada surat yang telah disampaikan sekitar sebulan yang lalu, sekitar tanggal 25 Oktober," ujar Direktur BMN II Ditjen Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Arif Baharudin saat ditemui di Kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (17/12/2010).Β
Menurut Arif, saat ini nilai buku itu masih dalam proses audit. Namun, diperkirakan pada tahun 2013 nilai buku perusahaan ini senilai US$ 1,229 miliar yang 58,87% merupakan kepemilikan Jepang.
"Nilai buku pastinya masih perlu due dilligence, tapi menurut proyeksi nilai buku Inalum di tahun 2013 saat pengambilalihan sekitar US$ 1.229 juta. Sekitar separuhnya adalah cash. Nilai pengambilalihan sesuai porsi kepemilikan Jepang 58,88%," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Inalum sudah memiliki track record yang panjang selama 30 tahun. Manajemennya pun cukup aktif yang ditangani putera-puteri Indonesia. Jika saja masa 30 tahun tersebut sudah lewat sampai 2013 nanti, mereka pun siap untuk meneruskan," tutur Menteri BUMN Mustafa Abubakar beberapa waktu lalu.
Seperti diketahui Inalum merupakan sebuah perusahaan patungan antara Indonesia dengan Jepang, yang bergerak dalam industri aluminium dengan kapasitas produksi sekitar 230.000-240.000 ton per tahun.
Inalum merupakan satu-satunya perusahaan lokal yang bergerak di sektor produksi aluminium. Selama ini, hasil produksi Inalum sebagian besar dikirim ke Jepang, dan Indonesia sendiri harus mengimpor alumunium dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
(nia/ang)











































