Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Thomas Darmawan di kantor Kementerian dan Kelautan dan Perikanan, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Selasa (4/1/2011).
"Sepanjang tahun 2008 sampai 2010 ada 16 industri yang mengurangi aktivitas," kata Thomas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meski utilitas industri pengolahan udang naik, tetapi kapasitas pengolahan turun, karena beberapa UPU tutup oprasi," katanya.
Selama ini, lanjut Thomas, para UPU bergerak dibidang usaha pengolahan udang (murni), campuran, dan krupuk. Pada tahun 2009 saja jumlah UPU bidang udang murni mencapai 78, lalu bidang campuran mencapai 48 dan bidang krupuk hanya 7 industri.
"Terjadi rasionalisasi di industri pengolahan udang karena tidak lancarnya pasokan bahan baku, sehingga yang kekurangan bahan baku udang lebih baik tidak beroperasi sementara atau tutup sama sekali," katanya.
Thomas menambahkan target produksi udang tahun 2010 lalu sejatinya mencapai 400.000 ton, namun ia memastikan realisasinya jauh meleset. Sementara untuk ekspor udang tahun 2010 yang ditargetkan 187.000 ton hanya akan terealisasi sebanyak 150.000 ton atau setara realisasi ekspor tahun 2009.
"Beberapa unit pengolahan udang di Kaltim dan Kalsel, tidak mampu bersaing dengan pembeli-pembeli udang dari daerah lain, sehingga sebagian tak operasi," katanya.
Ia mengharapkan perlu ada upaya membangkitkan kembali para unit pengolahan udang di dalam negeri. Diantaranya dengan penjaminan bahan baku udang yang berkelanjutan.
(hen/ang)











































