"Produksi garam kita hanya 2% dari produksi 1,2 juta ton. Kita dapat hanya 23.000 ton, yang kita hasilkan tahun (2010) curah hujan dari Januari sampai sekarang masih terjadi. Iklim mengacaukan siklus produksi garam," katanya di kantor Kementerian Perindustrian, Kamis (6/1/2011).
Ia menjelaskan iklim yang tak menentu membuat produksi garam nasional benar-benar rontok di tahun lalu. Padahal dalam kondisi normal, musim garam (kemarau) di Indonesia 4,5-5 bulan setiap tahunnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu Direktur Kimia Hilir Kementerian Perindustrian Tony Tanduk mengatakan melorotnya produksi garam tahun 2010 telah berdampak melonjaknya impor garam konsumsi hingga 4 kali lipat. Tahun 2009 impor garam konsumsi hanya sebesar 150.000 ton, sementara tahun lalu sedikitnya mencapai 600.000 ton.
Selama ini kebutuhan garam industri nasional pertahunnya bisa mencapai 2,6-2,8 juta ton mencakup kebutuhan industri untuk industri chlor alkali plant (CAP) sampai 1,6 juta ton yang semuanya impor.
Sementara itu industri pangan atau pembersih bisa mencapai 500.000 ton. Industri pengeboran bisa mencapai 125.000 ton danย kebutuhan industri lainnya 50.000 ton.
Kebutuhan garam untuk konsumsi rumah tangga bisa mencapai 700.000 ton per tahun.
(hen/dnl)











































