Adanya pertikaian antara Dirut PT PLN Dahlan Iskan dengan pengusahan Sofjan Wanandi memberikan stigma para pengusaha itu 'manja' karena terlalu banyak tuntutan kepada pemerintah mengenai berbagai hal, salah satunya terkait tarif listrik industri. Selaku mantan pemain di dunia bisnis, Hidayat mengakui tuntutan tersebut merupakan hal yang wajar, namun tetap harus ada batasnya.
"Enak juga, tentu semua orang menyadari bahwa manja tidak boleh berlama-lama. Tapi juga sebagai Menteri yang berlatar belakang pengusaha, saya tahu kapan kita harus berhenti bermanja-manja," ujar Hidayat ketika ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, (17/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena banyak faktor, industri-industri yang membuat production cost itu tidak efisien, kita benahi segera. Memang harus diberi kepastian, misal capping dilepas tahun depan atau enam bulan lagi. Harus diworo-woro sekarang, karena mereka harus buat kalkulasi," tegasnya.
Untuk saat ini, Hidayat menegaskan tarif yang digunakan masih tarif lama berdasarkan arahan Menteri ESDM. "Kata Menteri ESDM gitu (menggunakan tarif lama)," tegasnya.
Masalah pengusaha 'manja' itu sebelumnya telah memicu perseteruan antara Dirut PLN Dahlan Iskan dan ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi. Dahlan Iskan menilai pengusaha besar yang ribut soal kenaikan tarif listrik industri akibat pelepasan capping (batas) tarif listrik industri oleh PLN sebagai pengusaha manja.
Pernyataan Dahlan itu langsung ditimpali oleh Sofjan Wanandi yang mengatakan PLN harus kerja keras dan lebih kreatif. Sofjan juga menilai PLN hanya ingin mengambil jalan mudah menutupi tingginya biaya listrik lewat kenaikan tarif listrik, seperti yang dialami industri saat ini akibat dilepasnya capping (batas) tarif listrik golongan industri.
(nia/qom)











































