Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksektif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Ratnasari Lopis dalam jumpa pers di kantor Kadin, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Selasa (18/1/2011).
"Saat ini masih ada kapal yang tertahan dan belum dibongkar. Misalnya saja untuk Bogasari, karena kalau akan membongkar, maka harus bayar Rp 100 miliar," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ratnasari mengatakan, kebutuhan gandum nasional saat ini mencapai 350 juta ton per bulan. Stok saat ini hanya memenuhi kebutuhan untuk setengah bulan lagi."Sedangkan yang ada di kapal itu untuk memenuhi kebutuhan bulan depan. Kalau stok gandum minim, maka terigu juga langka," katanya.
Β
Dijelaskan Ratnasari, harga gandum impor saat ini adalah US$ 350-400 per ton. Sedangkan harga gandum di Indonesia Rp 150.000 per sack, dengan kenaikan bea masuk maka akan naik Rp 7.500 per sack.
Berdasarkan data yang diberikan Aptindo, perbandingan kenaikan harga gandum di 2009 dan 2010, yaitu untuk kualitas tinggi naik 84%, untuk kualitas medium naik 53 %, untuk yang low kualitasnya naik 57 %. Secara rata-rata kenaikan harga gandum 2010 adalah 57%.
"Kalau terigu naik, biasanya akan mendongkrak kenaikan bahan pangan lainnya, misal gula, mentega, dan bahan baku pembuatan kue lainnya. Kami merasa tidak disosialisasikan terlebih dahulu sehingga bahan kesiapan anggaran kami tidak tersedia, mengingat anggarannya tidak sedikit," jelas Ratnasari.
(dnl/qom)











































