Direktur Eksekutif Aptindo Ratna Sari Loppies mengatakan kenaikan pangsa pasar itu justru dinikmati oleh terigu Impor dengan pertumbuhan 18,8% selama 2010. Pada tahun 2008 volume terigu impor hanya 530.914 MT atau 15,09 % menguasai pangsa pasar lokal, tahun 2009 volumenya meningkat menjadi 645.010 MT atau 16,24% dari pangsa pasar lokal dan tahun 2010 volumenya melonjak menjadi 762.515 MT atau menguasai 17,37 % pangsa pasar dalam negeri.
"Pertumbuhan Industri domestik rata-rata tumbuh 2 %," kata Ratna dalam siaran persnya yang diterima detikFinance, Minggu (23/1/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ratna juga mengatakan dari sisi total kinerja ekspor produk turunan gandum (termasuk terigu) naik sebesar 72,3%. Pada tahun 2009 nilai ekspornya hanya US$ 288,979 juta sedangkan pada tahun 2010 menembus US$ 399,314 juta.
Khusus untuk ekspor terigu naik 90%, pada tahun 2009 hanya US$ 8,730 juta sementara tahun 2010 mencapai US$ 16,587 juta. Sementara ekspor produk turunan terigu naik 42,8% dari US$ 43,918 juta pada tahun 2009, menjadi US$ 62,726 juta di tahun 2010. Untuk total ekspor produk lain-lain rata-rata naik 41,1% dari US$ 236,330 juta di 2009 menjadi US$ 320 juta di tahun 2010.
"Tumbuhnya industri turunan seperti biskuit, instant noodle untuk pasar ekspor karena dianggap bahan bakunya yaitu tepung terigu cukup aman pasokannya, dan saat ini sudah ada 14 industri terigu di Indonesia, ditambah 7 yang dalam tahap established," katanya
(hen/wep)











































