Menurut Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali, perubahan hingga ke tataran industri hanya bisa diciptakan oleh seorang 'Cracker'. Cracker ini lah orang yang mampu bisa melihat celah, patahan, letusan, retak, sekaligus memanfaatkannya menjadi peluang karena mampu menerobosnya.
"Cracker adalah orang yang memperbarui industri bukan lagi memperbaharui perusahaan, leader kerjaanya memperbaharui perusahaan, cracker memperbaharui industri," kata Rhenald dalam perbincangannya dengan detikFinance akhir pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Rhenald ,cracker adalah orang yang memperbaharui industri. Baginya cracker bukan hanya sebagai leader yang melakukan transformasi saja.
Rhenald menegaskan, dengan karakteristiknya itu, maka tak mengherankan bila seorang cracker akan dicemburui atau bahkan dimusuhi oleh para kompetitornya yang senang mempertahankan kondisi (comfort zone). Seoarang cracker bekerja lebih berat dari rata-rata leader karena membongkar tradisi industri dan persaingan.
Dalam dunia nyata, seorang cracker bisa dijumpai dalam wujud seperti personal cracker maupun corporate cracker. Ia mencontohkan seorang personal cracker ialah CEO Bank Jawa Barat (Jabar) Agus Ruswendi yang berhasil membawa Bank Jawa Barat dari bank daerah yang 'berwawasan' sempit menjadi bank nasional. Selain itu ditangannya, Bank Jabar menjadi bank daerah pertama yang tercatat di bursa saham.
Sosok lainnya adalah CEO Garuda Indonesia Emirsyah Satar yang berhasil mengembalikan citra Garuda Indonesia ke dunia penerbangan internasional. Pada tahun 2010, Garuda berhasil terbang ke Eropa.
Masih banyak cracker-cracker lainnya termasuk CEO XL Axiata Hasnul Suhaimi yang telah membawa 'revolusi' tarif telepon seluler dengan menawarkan tarif super murahnya dan lain-lain.
Dimasa lalu, cracker juga bisa ditemukan misalnya Sosrodjojo pendiri teh botol sosro, Tirto Utomo pendiri Aqua yang menyulap minuman minuman mineral menjadi komersil sekaligus mengubah wajah industri minuman, Purnomo pendiri Bluebird menciptakan armada taksi dengan sistem agro dan melayani pemesanan online.
"Terlepas dari masalah yang dihadapinya, Ibnu Sutowo itu adalah cracker, dahulu gas nggak dijual, dahulu gas dibuang," katanya.
Menurut Rhenald, Ibnu Sutowo adalah seorang cracker, ia membangun Pertamina dari nol, memperkenalkan bahan bakar gas seperti LNG, LPG.
Sementara itu dari sisi corporate, cracker bisa ditemukan dalam kasus PT Holcim Indonesia, sebuah perusahaan semen yang melakukan perubahan bisnis tidak hanya sebagai produsen semen, namun juga menawarkan konsep solusi rumah sebagai tempat konsultasi pembangunan rubah bagi konsumen yang sebelumnya tak pernah ditemukan.
Selain itu, ada juga PTT HM Sampoerna yang mengambil sikap agar industri rokok diperketat dan implementasi larangan anak-anak merekok. Padahal disaat yang bersamaan produsen rokok lainnya meminta proteksi pemerintah dan meminta peraturan diperlunak.
Di dunia internasional, beberapa seorang cracker dapat ditemukan misalnya Ren Zhengfei, CEO Huawei sebuah perusahaan teknologi komunikasi negeri Tirai Bambu, yang mampu unjuk gigi sebagai perusahaan diperhitungkan. Di Indonesia sendiri nama Huawei masih berkonotasi sebagai produsen ponsel abal-abal.
Menurut Rhenald, di Indonesia sendiri fenomena cracker tak terlepas dari pilar-pilar yang menopang terjadinya perubahan yaitu, pertama saat ini pendapatan perkapita orang Indonesia rata-rata US$ 3000 artinya semakin kuat daya beli masyarakat.
Kedua, adalah populasi pengguna ponsel di Indonesia sudah lebih mencapai 180 juta orang atau mendekati populasi, bahkan setengahnya sudah terhubung dengan jejaring sosial melalui facebook, twitter dan lain-lain.
Ketiga, adalah menguatnya gejala freemium dalam bisnis, yaitu dari dahulu beberapa tarif yang dianggap mahal kini sudah relatif murah bahkan free misalnya dibidang telekomunikasi.
Keempat, munculnya generasi connected (Gen C), yang cepat berubah karena terhubung satu dengan lainnya dan perubahan informasi yang begitu cepat.
(hen/qom)











































