Rhenald melihat, XL dahulu hanya sebagai operator yang mengejar layanan bersuara jernih dengan tarif premium. Namun kini, XL menjadi operator yang menawarkan tarif super murah dan menempati posisi kedua dengan sedikitnya 35,2 juta pelanggan.
Ia mengatakan dengan tawaran tarif yang begitu murah, maka konsumen mendapatkan keinginananya. Konsumen bergairah menggunakan fasilitas data internet seperti penggunaan jejaring sosial seperti twitter, facebook yang telah menjadi bagian perubahan masyarakat Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakannya, Hasnul berhasil menangkap keinginan konsumen yaitu tidak hanya memberikan tarif ponsel murah namun tarif super murah. Langkah XL ini, setidaknya sudah dirintis sejak tanggal 15 Juli 2007 dengan mengambil langkah radikal dengan menghapus tarif voice ke sesama XL menjadi Rp 1 per detik.
Β
"Supaya low price maka model bisnisnya harus berubah, harus simple dan ramping. Margin kecil volume besar, supaya untung frekuensi harus tinggi," kata Rhenald dalam perbincangannya dengan detikFinance akhir pekan lalu.
Ia memaparkan hal tersebut berkaitan dengan buku terbarunya yang berjudul 'Cracking Zone, Revolusi Gaya Hidup Ketika Icome Per Kapitas Kita Menembus US$ 3000 dan Bagaimana Menangkap Peluang Ini.
Rhenald menjelaskan studinya terhadap perusahaan-perusahaan telekomunikasi bagian dari rangkaian menangkap fenomena berkembangnya generasi terkoneksi (Gen Connected). Tarif yang murah telah menghilangkan batasan orang untuk saling berkomunikasi antara sesama.
"Waktu tarif 20 per dolar orang memakai (ponsel) 75 menit per bulan, ketika Rp 1 per detik, sekarang orang sampai 400 per bulan," katanya.
Menurutnya, perubahan dalam 'revolusi' tarif ponsel di Indonesia tidak terlepas dari seorang cracker yaitu pencipta celah terhadap perubahan. Cracker melakukan langkah lebih dahulu sehingga siap mengantisipasi dan memainkan peran dari perubahan itu.
"Supaya menjadi cracker kita harus duduk di belakang tembok yang kuat, ini diambil dari feng shui," katanya.
Seorang cracker di perusahaan menurutnya harus mendapatkan dukungan penuh dari pemegang saham. Dalam kasus XL, ia mencatat para pemegang saham XL khususnya Telekom Malaysia mendukung penuh langkah Hasnul Suhaimi hingga membawa ke titik target, walaupun awalnya Hasnul hampir gagal.
"Hasnul itu sempat mau nulis surat mengundurkan diri, waktu 6 bulan pertama laporan keuangan jeblok, sudah siap-siap dia mau keluar. Tetapi dia tetap dipercaya, tembok di belakangnya kuat, Telekom Malaysianya bilang, kita tetap percaya sama kamu. Akhirnya dalam waktu 6 bulan kedepan untung besar," katanya.
Mengenai Cracker, ia menganalogikan seoarang cracker sejati adalah seorang cracker yang bisa berlari seperti Cheetah, bukan cracker yang bergaya dan berlari seperti kucing.
Menurut Rhenald, cracker adalah orang yang memperbaharui industri. Baginya cracker bukan hanya sebagai leader yang melakukan transformasi saja.
Rhenald menambahkan tak mengherankan seorang cracker akan dicemburui atau bahkan dimusuhi oleh para kompetitornya yang senang mempertahankan kondisi (comport zone). Dikatakannya seoarang cracker bekerja lebih berat dari rata-rata leader karena membongkar tradisi industri dan persaingan.
(hen/qom)











































