Ketua Umum Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono mengatakan saat ini Mesir masih menempati urutan ke-7 dari kontribusi ekspor ke pasar Timur Tengah dengan nilai ekspor 2010 sebesar US$ 3,922 juta. Sementara total ekspor pasar Timur Tengah mencapai US$ 64,681 juta.
"Potensi kehilangan sampai US$ 100 juta, karena barang kita 85% melalui Terusan Suez," kata Ambar dalam acara konferensi pers di Jakarta, Rabu (9/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita jangan melihat potensi pasar ekspor furnitur ke Mesir yang hanya US$ 4 juta," katanya.
Rencananya untuk menekan risiko itu, pihaknya akan berupaya mengalihkan pasar ke negara-negara Timur Tengah lainnya seperti Uni Emirat Arab, Iran, Iraq, atau bahkan negara-negara Afrika seperti Libia.
"Potensi US$ 4 juta itu harus dilarikan ke negara sekitarnya," ucapnya.
Total ekspor furnitur Indonesia ke Timur Tengah pada 2010 mencapai US$ 64,68 juta di mana kontribusi ekspor terbanyak ke Uni Emirat Arab sebesar US$ 26,97 juta, Turkey sebesar US$ 10,6 juta, Israel sebesar US$ 4,47 juta, Lebanon sebesar US$ 4,2 juta, Arab Saudi sebesar US$ 4,02 juta, Kuwait sebesar US$ 3,9 juta, Mesir sebesar US$ 3,922 juta, Iran sebesar US$ 1,6 juta dan lain-lain.
"Tahun 2011 ini kita targetkan naik lagi, tahun ini naik 20%, sampai US$ 80 juta," ucapnya.
(hen/dnl)











































