Dalam survei perbankan Bank Indonesia (BI) di kuartal IV-2010, disebutkan ada banyak alasan yang menjadi penyebab industri tekstil dihindari oleh perbankan Indonesia sampai saat ini.
"Harga bahan baku yang berfluktiasi, maraknya produk tekstil impor, dan ketatnya persaingan pada industri tekstil yang diperkirakan akan meningkatkan potensi terjadinya kredit macet," demikian isi laporan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan, saat ini industri tekstil sedang didera kesulitan akibat kenaikan bahan bakunya. Kenaikan bahan baku ini menyebabkan kenaikan modal kerja.
Karena itu, para pelaku industri tekstil sangat membutuhkan suntikan modal saat ini. Namun mereka kesulitan karena perbankan menghindari pemberian kredit baru seperti hasil survei BI di atas.
Ade mengatakan, volume ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) dipastikan bakal anjlok menyusul naiknya harga bahan baku seperti kapas. Meskipun begitu, pada tahun ini ekspor tekstil bakal mencapai US$ 15 miliar atau jauh melampaui realisasi 2010 yang hanya US$ 11,2 miliar sebagai imbas kenaikan harga jual.
(dnl/dnl)











































