Ketua Umum API Ade Sudrajat mengatakan, misalnya saja di kawasan Moh. Toha Bandung, Jawa Barat, lima tahun lalu di kawasan sentra TPT ini ada 48 pabrik TPT. Namun sesuai berjalannya waktu hingga kini hanya ada 20-an pabrik TPT yang beroperasi di kawasan Moh. Toha.
"Ini salah satunya karena berganti pemilik. Generasi kedua banyak yang tak berminat melanjutkan usaha orang tuanya. Pilihannya dijual atau pensiun," kata Ade di kawasan Moh. Toha Bandung, Sabtu (12/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasanya harga satu pabrik tekstil skala besar US$ 10 juta," katanya.
Menurut Ade, fenomena ini tak terlepas dari perbedaan pandangan atau visi antara generasi pertama dengan generasi kedua. Misalnya seorang generasi kedua karena sudah mendapat pendidikan luar negeri seperti AS, lebih memilih banting setir ke industri yang lebih menjanjikan karena bermargin besar seperti bisnis pertambangan.
"Mereka para generasi kedua ini berpandangan di industri tekstil iniΒ kerja keras tapi marginnya kecil, mereka ingin kerja keras dapat marginnya juga keras," tutur Ade.
Dikatakan Ade, fenomena ini bukan hanya terjadi di kawasan sentra TPT Bandung, namun juga terjadi di sentra-sentra TPT seperti Jawa Tengah dan lain-lain.
Beberapa kasus lainnya, Ade juga mencatat tak semuanya generasi kedua di industri tekstil melakukan hal semacam itu. Ada beberapa kasus justru ditangan generasi kedua bisnis pabrik tekstilnya berkembang karena mengakuisisi pabrik-pabrik yang dijual.
"Ada juga yang lebih melihat kedepan, mereka mengejar volume besar dengan membeli pabrik-pabrik tekstil," jelasnya.
Meskipun ia mencatat, faktor penutupan pabrik tadi selain karena terhentinya usaha di generasi kedua, faktor tersendatnya memperoleh modal kerja terutama dari perbankan menjadiΒ penyebab lain suatu pabrik TPT harus berhenti operasi atau bahkan tutup.
(hen/wep)











































