Banyak Industri Tekstil Tutup Ditinggal Generasi Kedua

Banyak Industri Tekstil Tutup Ditinggal Generasi Kedua

- detikFinance
Minggu, 13 Feb 2011 13:34 WIB
Bandung - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencatat banyak penutupan pabrik tekstil dan produk tekstil (TPT) di sentra-sentra TPT di Indonesia. Fenomena penutupan ini karena pemilik generasi kedua tak mau melanjutkan usaha orang tuanya.

Ketua Umum API Ade Sudrajat mengatakan, misalnya saja di kawasan Moh. Toha Bandung, Jawa Barat, lima tahun lalu di kawasan sentra TPT ini ada 48 pabrik TPT. Namun sesuai berjalannya waktu hingga kini hanya ada 20-an pabrik TPT yang beroperasi di kawasan Moh. Toha.

"Ini salah satunya karena berganti pemilik. Generasi kedua banyak yang tak berminat melanjutkan usaha orang tuanya. Pilihannya dijual atau pensiun," kata Ade di kawasan Moh. Toha Bandung, Sabtu (12/2/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ade menambahkan biasanya pabrik-pabrik yang tutup itu mau tak mau harus memberhentikan para pekerjanya karena harus dijual ke tangan lain. Setidaknya membutuhkan waktu 2-3 bulan sampai menemukan pemilik baru sehingga tenaga kerja yang sudag diberhentikan bisa diserap lagi.

"Biasanya harga satu pabrik tekstil skala besar US$ 10 juta," katanya.

Menurut Ade, fenomena ini tak terlepas dari perbedaan pandangan atau visi antara generasi pertama dengan generasi kedua. Misalnya seorang generasi kedua karena sudah mendapat pendidikan luar negeri seperti AS, lebih memilih banting setir ke industri yang lebih menjanjikan karena bermargin besar seperti bisnis pertambangan.

"Mereka para generasi kedua ini berpandangan di industri tekstil iniΒ  kerja keras tapi marginnya kecil, mereka ingin kerja keras dapat marginnya juga keras," tutur Ade.

Dikatakan Ade, fenomena ini bukan hanya terjadi di kawasan sentra TPT Bandung, namun juga terjadi di sentra-sentra TPT seperti Jawa Tengah dan lain-lain.

Beberapa kasus lainnya, Ade juga mencatat tak semuanya generasi kedua di industri tekstil melakukan hal semacam itu. Ada beberapa kasus justru ditangan generasi kedua bisnis pabrik tekstilnya berkembang karena mengakuisisi pabrik-pabrik yang dijual.

"Ada juga yang lebih melihat kedepan, mereka mengejar volume besar dengan membeli pabrik-pabrik tekstil," jelasnya.

Meskipun ia mencatat, faktor penutupan pabrik tadi selain karena terhentinya usaha di generasi kedua, faktor tersendatnya memperoleh modal kerja terutama dari perbankan menjadiΒ  penyebab lain suatu pabrik TPT harus berhenti operasi atau bahkan tutup.

(hen/wep)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads