Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan di acara rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (14/2/2011).
"Perkembangan industri turunan sawit sudah mengalami perkembangan. Namun bila dibandingkan dengan Malaysia kita masih tertinggal jauh. Perkembangannya tak secepat yang kita harapkan," kata Fadhil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BK progresif menurutnya sudah tak tepat lagi karena sudah melenceng dari tujuan awalnya menstabilkan harga minyak goreng dalam negeri.
"Jadi jangan sampai instrumen penerimaan negara, harus dikembalikan ke tujuan semula," jelasnya.
Fadhil menambahkan Gapki sudah menyampaikan usulan ke pemerintah soal penerapan BK flat 3% ketika harga CPO sudah di atas US$ 700 per ton. Ia sangat yakin dengan pola ini bisa menstabilkan harga minyak goreng di dalam negeri dan juga mendorong hilirisasi industri kelapa sawit.
"Tak ada bukti BK progresif telah berhasil mendorong pengembangan industri hilir di dalam negeri," katanya.
Ia juga menambahkan dengan BK progresif telah merugikan petani karena akan mempengaruhi harga tandan buah segar (TBS) sawit. Selain itu, harga CPO Indonesia di luar negeri bisa kalah bersaing dari sisi harga.
(hen/dnl)











































