Hal ini disampaikan oleh Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa di kantornya, Kuningan, Jakarta, Jumat (18/2/2011).
"Jadi jangan masalah tarif saja, suplai juga. PLN harus komitmen kalau harga naik, suplai harus konsisten," tegas Erwin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kampanye penghematan listrik itu dengan sendirinya mengatakan kurangnya produksi (listrik). Yang harus dikampanyekan adalah efisiensi produksi (listrik), bukan pemakaian (listrik)," kata Erwin.
Dikatakan Erwin, jumlah industri tentu akan terus bertambah seiring bertumbuhan ekonomi, dan ini bakal membuat pemakaian listrik jadi semakin meningkat. "Pemakaian listrik yang besar itu sebagai pencitraan. Kalau ada suatu kota yang gelap, tandanya kotanya mati," jelas Erwin.
Terkait masalah capping (batas) tarif listrik industri, Erwin mengatakan meskipun DPR memutuskan agar capping kembali diberlakukan, namun belum ada kepastian dari pemerintah dan PLN.
"Yang paling penting adalah kepastian diberlakukan atau dicabut belum ada ketegasan dari pemerintah. Kami mengharapkan kepastian biar pengusaha tak dibuat bingung oleh tagihan listrik yang masuk dari PLN," tutur Erwin.
Menurutnya, pengusaha mengharapkan suplai dan tarif listrik yang kompetitif. "Dan PLN harus segera memperbaiki dan membenahi industri listrik yang mereka miliki," tukas Erwin. (dnl/qom)











































