200 UKM Rugi Rp 39 Miliar Akibat Letusan Merapi

200 UKM Rugi Rp 39 Miliar Akibat Letusan Merapi

- detikFinance
Kamis, 10 Mar 2011 17:49 WIB
200 UKM Rugi Rp 39 Miliar Akibat Letusan Merapi
Magelang - Bencana erupsi Gunung Merapi disertai banjir lahar dingin merusak kegiatan Usaha Mikro Kecil dan Menangah (UMKM) di Jawa Tengah hancur. Sedikitnya 200 UMKM lebih usaha rakyat di tiga kabupaten Jawa Tengah itu terpuruk. Tiga kabupaten itu adalah Klaten, Magelang, dan Boyolali.

Pernyataan itu disampaikan oleh Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Tengah Sujarwanto Dwiatmoko Kamis (10/3/2011) usai mendampingi Ibu Gubernur Jawa Tengah, Sri Suharti Bibit Waluyo saat memberikan Bimbingan Teknis Wira Usaha Baru & Peningkatan Kwalitas Produk Makanan bagi korban banjir lahar dingin di TPA Tanjung Muntilan, Magelang, Jateng.

"Jika ditotal dampak kerugian yang diderita UMKM di wilayah tersebut mencapai Rp 39 miliar," tegas Sujarwanto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sujarwanto mengatakan kerugian yang ditimbulkan akibat bencana ini meliputi, kerusakan sarana produksi, fasilitas kantor, dan hilangnya permodalan.

"Kebanyakan didominasi karena aktivitas produksi mereka berhenti. Usaha anggota koperasi juga banyak yang mati," tutur Sujarwanto.

Pihaknya bersama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah akan memberikan bantuan bergulir untuk sejumlah 200 UMKM dengan nilai bantuan Rp 2,1 miliar. Bantuan diwujudkan dalam bentuk pendampingan usaha kerakyatan.

"Seperti pendampingan usaha boga di Selo Boyolali, Srumbung, dan Dukun. Serta Batik di Borobudur," ungkap Sudjarwanto.

Sudjarwanto menjelaskan bantuan juga diwujudkan dalam bentuk bangunan infrastruktur, akses permodalan, dan pelatihan usaha.

"Dari bencana dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan uang seperti pembuatan kerajinan dengan bahan abu vulkanik dan kerajinan jamur di Klaten. Kita akan dampingi mereka dan memberikan pelatihan-pelatihan," jelas Sujarwanto.

Dengan demikian, lanjut Sujarwanto, usaha perekonomian masyarakat kecil dan menengah ini dapat kembali pulih minimal dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.

"Ini untuk membekali mereka supaya bisa bangkit dan kembali membangun usaha yang mati," lanjut Sudjarwanto.

Sementara itu, di TPA Tanjung sendiri merupakan satu-satunya pendampingan UMKM yang dilakukan di pengungsian. Hal ini dilakukan lantaran banyak wilayah para pengungsi yang berasal dari Desa Sirahan Kecamatan Salam tidak lagi bisa dihuni.

"Kalau lainnya diberikan langsung ke rumah-rumah," papar Sudjarwanto.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda)Jawa Tengah, Sri Suharti Bibit Waluyo menuturkan sedikitnya ada 16 kelompok UMKM yang dilatih kerajinan dan wira usaha baru. Meliputi pembuatan makanan berbahan baku beras, pisang, jagung, ketela, dan tepung.

"Kita harapkan para pengungsi ini bisa menghasilkan selama tinggal di pengungsian. Kemudian setelah pulang ke rumah masing-masing mereka juga bisa kembali bangkit," tutur Sri Suharti Bibit Waluyo.

Untuk langkah selanjutnya, usaha kecil yang telah difasilitasi dengan pelatihan ini akan terus didampingi. Produk yang dihasilkan bisa dipasarakan dan menghasilkan uang.

"Mereka bisa menjajakan dagangannya di lokasi wisata lahar dingin. Untuk kerajinan bisa pula dititipkan di Dekranasda," terang Sri Suharti.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM Kabupaten Magelang, Edy Susanto menuiturkan di Kabupaten Magelang terdapat 35 ribu usaha kecil. Sebanyak 12 ribu di antaranya saat ini sudah hilang akibat bencana erupsi Gunung Merapi dan banjir lahar dingin.

Hingga saat ini, Pemkab Magelang mengaku belum ada anggaran di tingkat kabupaten yang akan dialokasikan ke untuk membenahi UMKM tersebut. Pasalnya, anggaran banyak dikeluarkan untuk rekonstruksi infrasturktur yang rusak.

"Sehingga jalan satu-satunya adalah menarik dana dari pemerintah provinsi dan pusat. Untuk kabupaten sendiri hanya ada dana pendampingan Rp 100 juta," jelas Edy.

Sumarsih, 40 tahun, korban banjir lahar dingin asasl Dusun Jetis Desa Sirahan mengaku cukup terbantu dengan pelatihan ini. Dia sendiri mengaku usahanya hancur dilalap banjir lahar.

"Awalnya saya punya lahan salak, kemudian hancur diterjang lahar. Selanjutnya saya membuka warung tongseng dan hanyut lagi kena lahar," akunya.

Saat ini, Edy mengaku masih belum kapok untuk bangkit membangun kembali usahanya. Rencananya, dia akan mendirikan kembali usaha warung makan dari hasil pelatihannya tersebut.

(dnl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads