"Pabrik kami telah hadir sejak tahun 2004 dalam bentuk pabrik proses pengolahan skala kecil. Tantangannya jauh dan kurang dari kapasitas di bawah 60% yang bisa dipenuhi," kata Managing Director GarudaFood Hartono Atmadja di Lombok Barat, Kamis (17/3/2011).
Hartono menambahkan, sebagai produsen makanan kacang olahan, suplai yang kontinyu sangat diperlukan. Berdasarkan hitungan skala ekonomis, perlu suplai 40 ton kacang tanah per hari untuk membuat proses produksi pabrik kacang olahan di Lombok, namun kini belum terpenuhi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khusus untuk wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) hanya mempunyai produksi kacang tanah kulit 45.000 ton per tahun, sementara yang diserap GarudaFood hanya 10%. Produksi kacang tanah di NTB saat ini menopang 6% produksi kacang nasional.
"Kebutuhan pasar tradisional jauh lebih besar," katanya.
Ia menjelaskan wilayah NTB sangat berpotensi menjadi penyuplai kacang di dalam negeri. Jika produktivitas kacang para petani terus ditingkatkan dari rata-rata 1,5 ton per hektar menjadi 3 ton per hektar maka bukanya petani yang diuntungkan tetapi produsen seperti GarudaFood mendapat suplai kacang yang cukup dan kontinyu. Hartono mengakui setiap tahunnya harga kacang di dalam negeri terus naik.
"Dengan harga kacang yang terus naik, kita kelabakan sebagai produsen, makanya (kacang) garuda kita harus naikkan," katanya.
Ia berharap pola kerjasama dengan petani di NTB yang dibantu oleh IFC Bank Dunia maupun AusAID (Kemitraan Australia Indonesia) akan berdampak pada suplai kacang di NTB.
Pola kemitraan dengan petani bermanfaat bagi kedua pihak khususnya petani yang akan mendapat kepastian pasar dan harga yang wajar. Bagi GarudaFood program kemitraan dengan petani akan memperkuat suplai ke pabrik kacang perseroan.
"Kita tentunya ada rencana di daerah lain, dengan hasil teknis dan riset yang mahal harusnya kita tularkan ke daerah lain," katanya.
(hen/ang)











































