"Tidak ada penurunan ekspor ke Jepang. Tsunami itu tidak berpengaruh. Kalaupun ada pengaruh, itu relatif kecil sekali," kata Senior Manajer Eksteral Newmont Arif Perdanakusumah di sela-sela Pelatihan Jurnalistik Pertambangan Bagi Media Massa NTB di Sumbawa Besar, Jumat (18/3/2011).
Arif mengatakan, smelter pengolah konsentrat emas dan tembaga di Jepang masih tetap beroperasi pasca tsunami. Selain itu, umumnya kontrak jual beli ke Jepang adalah kontrak jangka panjang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena tidak ada perubahan kontrak, kata Arif, pihaknya tidak melakukan review pasar konsetrat di 2011. Tapi andai kata itu terjadi, Arif menegaskan, pihaknya memaksimalkan pengolahan emas dan tembaga dalam negeri, dengan smelter di Gresik, Jawa Timur.
"Smelter kan tidak hanya ada di Jepang. Di Gresik kan juga ada," katanya.
Data Bank Indonesia Mataram menyebutkan, Jepang menyerap 60% produksi konsentrat Newmont. Konsentrat itu dikapalkan langsung dari Pelabuhan Benete, Sumbawa Barat.
Ekspor konsentrat Newmont adalah komoditi utama eksport NTB. Tahun lalu, ekspor konsentrat mencakup 94% seluruh komoditi ekspor provinsi ini.
Arif mengatakan, produksi tembaga Newmont tahun lalu mencapai 542 juta pound. Sementara produksi emas mencapai 737.000 troy ounce. Satu pound setara 0,5 kilogram, sedangkan satu troy ounce setara 31,103 gram.
(dnl/dnl)











































