RI Sinyalir China Main Curang dalam AC-FTA

RI Sinyalir China Main Curang dalam AC-FTA

- detikFinance
Kamis, 24 Mar 2011 14:02 WIB
Jakarta - Hasil evaluasi pemerintah terhadap perdagangan bebas ASEAN-China menunjukan beberapa sektor industri terpuruk. Pemerintah mensinyalir ada praktek perdagangan tak sehat yang dilakukan oleh China misalnya melakukan dumping.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan selama berlangsungnya ACFTA banyak ditemukan produk China yang berada dibawah standar.
Selain itu jugaΒ  ada sinyalemen terjadi dumping pada barang-barang dari China.

"Nah kita kan melakukan berbagai upaya antara lain upaya menggunakan safeguard," kata Hidayat di Istana Negara, Jakarta, Kamis (24/3/2011)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakannya ,dari sekian puluhan komoditi dari China ada kemungkinan terjadi dumping. Untuk itu ia meminta proses pengajuan pengenaan anti dumping (safeguard). Meskipun ia mengakui untuk mencapai ke titik itu harus ada pelaku usaha yang merasa dirugikan dengan mengajukan petisi.

"Supaya tidak terulang terus, buktinya mereka masuk ke sini, kita sinyalir dengan dumping tapi belum ada komplain sektornya yang merasa dirugikan," katanya.

Hidayat mengakui sudah terjadi tekanan terhadap sektor-sektor industri terutama sektor furnitur, logam dan produk logam, elektronik, permesinan, tekstil dan produk tekstil.

Sebelumnya hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyimpulkan ACFTA di sektor manufaktur berdampak pada pengurangan produksi industri lokal. ACFTA juga berdampak pada penurunan penjualan, keuntungan, pengurangan tenaga kerja.

Survei kemenperin dilakukan berdasarkan pembagian kuesioner kepada 2.738 penjual, 3.521 pembeli dan 724 perusahaan.Survei dilakukan di 11 kota besar di Indonesia anataralain Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, Pontianak, Makassar dan Manado.

Dampak negatif ACFTA juga berupa peningkatan impor bahan baku. Selain itu terjadi juga kecenderungan penurunan pangsa pasar domestik untuk produk-produk buatan dalam negeri.

Para pedagang diduga lebih suka menjual barang-barang impor asal China karena keuntungannya lebih besar.Β  Kondisi ini diduga menjadi penyebab terjadinya penurunan produksi dan keuntungan industri lokal.

(hen/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads