Menperin: Industri Kayu Jangan Jadi Pecundang

Menperin: Industri Kayu Jangan Jadi Pecundang

- detikFinance
Jumat, 25 Mar 2011 11:04 WIB
Jakarta - Beberapa tahun industri pengolahan kayu dan hasil hutan terus menurun dari sisi produksi maupun ekspor. Pemerintah bertekad tak akan membiarkan industri kayu terus terpuruk.

Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan pemerintah berupaya meningkatkan penetrasi pasar produk pengolahan kayu hilir dengan cara membantu promosi ke negara-negara tujuan ekspor utama. Khusus untuk industri furnitur, Hidayat mengharapkan dapat bangkit kembali dengan target ekspor mencapai US$ 3 miliar per tahun.

"Jangan jadi pecundang di negara sendiri. Kita harus memperbaiki dan meningkatkan kinerja kita," katanya  di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (25/3/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hidayat menyatakan melorotnya kinerja industri pengolahan kayu disebabkan bahan baku yang langka akibat maraknya illegal logging dan illegal trade.

Kondisi tersebut sangat ironis mengingat Indonesia merupakan negara ketiga terbesar setelah Brasil dan Zaire, yang kaya akan sumber daya hutan karena memiliki kawasan hutan tropis seluas 133,84 juta hektar.

"Industri kita mengalami penurunan karena bahan baku semakin langka. Di sisi lain, justru pesaing Indonesia di luar negeri mendapatkan bahan kayu dan rotan dengan mudah," ujarnya.

Berdasarkan data Kemenperin, nilai ekspor produk pengolahan kayu  tahun 2007 sebesar US$ 1,25 miliar, tahun 2008 sebesar US$ 1,19 miliar, tahun 2009 menurun menjadi US$ 957 juta, tahun 2010 kembali naik menjadi US$ 1 miliar.

Untuk data ekspor industri pulp, tahun 2007 sebesar US$ 1,13 miliar, tahun 2008 sebesar US$ 1,1 miliar, tahun 2009 menurun menjadi US$ 733 juta, tetapi tahun 2010 kembali naik mejadi US$ 1,47 miliar.

Data ekspor industri kertas, tahun 2007 sebesar US$ 2,87 miliar, tahun 2008 sebesar US$ 2,82 miliar, tahun 2009 naik menjadi US$ 3,26 miliar, dan tahun 2010 kembali naik sebesar US$ 4,24 miliar.

"Sehingga bisa dikatakan industri pulp dan kertas mengalami kenaikan ekspor yang signifikan selama tahun 2009-2010," ujar Hidayat.

Sementara itu, data ekspor furniture kayu tahun 2007 sebesar US$ 1,39 miliar, tahun 2008 menurun menjadi US$ 1,36 miliar, tahun 2009 menurun lagu menjadi US$ 1,15 miliar, tetapi tahun 2010 mulai naik kembali menjadi US$ 1,4 miliar.

Sedangkan data ekspor furnitur rotan tahun 2007 sebesar US$ 319 juta, tahun 2008 sebesar US$ 239 juta, tahun 2009 turun menjadi US$ 167 juta, dan tahun 2010 menurun lagi menjadi US$ 138 juta.

Ia menyatakan pemerintah bekerjasama dengan pemerintah daerah Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, dan Aceh untuk membangun pusat pengembangan industri rotan terpadu. Ini berfungsi mengembangkan industri pengolahan rotan di daerah sumber bahan baku serta menjamin ketersediaan bahan baku rotan bagi industri furnitur rotan dalam negeri.

(nia/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads