Ketua Umum Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono menyatakan adanya bencana di Jepang membuat ekspor furnitur IndonesiaΒ bernilai US$ 220 juta terganggu. Saat ini saja sudah banyak kontainer berisis furnitur yang ditunda keberangkatannya ke Jepang.
"Ekspor furnitur kita itu (ke Jepang) senilai US$ 220 juta, cukup tinggi. Jadi ini permasalahan yang cukup besar," ujarnya ketika ditemui di Kantor Kementerian Perindustrian, Jl.Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (25/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
mengantisipasi dengan mengalihkan ekspor ke 3 negara yaitu, Korea, Taiwan dan Jepang.
"Mengalihkan pasar, kita akan terhambat 9 bulan sampai 1 tahun," ujarnya.
Dengan ekspor ke ketiga negara tersebut, Ambar menyatakan dapat menutupi nilai ekspor yang terhambat ke Jepang.
"Ya bisalah tertutup yang US$ 220 juta itu," tandasnya.
Tahun ini total target ekspor furnitur Indonesia mencapai US$ 3 miliar. Kinerja ekspor produk furnitur selama 2010 mencapai US$ 2,7 miliar atau naik 20% dibanding 2009 sebesar US$ 2,25 miliar.
Β
Pemerintah Optimis Ekspor Furnitur Cepat Pulih
Menteri Perindustrian MS Hidayat yakin ekspor furnitur Indonesia dapat menguasai pasar furnitur Jepang pasca bencana gempa dan tsunami pada saat proses pemulihan fisik di Jepang.
"Kalau nanti recovery dari tsunami Jepang itu melakukan pembangunan infrastruktur dan perumahan, kemungkinan bahan-bahan kita termasuk furnitur
akan kita ekspor," ujarnya.
Keyakinan Hidayat tak sejalan dengan pelaku eksportir. Menurut Ambar, masa pemulihan Jepang masih cukup lama dan eksportir banyak alami kerugian.
"Lagian kan kalau recovery pasti membangun rumah dulu masa sudah mau beli furnitur," ujarnya.
(nia/hen)











































