Menurut Direktur Utama Kimia Farma Sjamsul Arifin, selain rencana pembangunan pabrik Sebacic Acid, pihaknya juga akan mengembangkan perkebunan bijih jarak (Castor Seed), dengan lokasi di Kalimantan dan atau Nusa Tenggara.
"Kami baru saja tandatangan MoU dengan Toray, pengguna Sebacic Acid (Bio Plastic) dan BGL, Plantation Castor. Ini untuk kembangkan bisnis Castor," jelas Sjamsul di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (30/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akan dilakukan VS. Didanai dan didampingi tim ahli jepang. Diharapkan dapat realisasi tahun depan, setelaah VS lolos," tambahnya.
Castor Seed atau bijih jarak sejatinya telah diproduksi perseroan 30 tahun lalu. Namun penggunaannya terbatas pada industri farmasi dan kosmetika, untuk obat penumbuh rambut. Produksi Castor per bulan 5 ton, dengan pembeli terbesar PT Tancho Indonesia.
Harga Castor sangat murah, Rp 4.000-6.000 per kg. Bandingkan dengan harga Sebacic Acid Rp 120 ribu per kg.
Proses pengembangan produk Castor Seed adalah Castor Oil. Harganya juga sudah naik, Rp 12-16 ribu per kg. Castor Oil kemudian dapat diolah sebagai Sebacic Acid, yang merupakan bahan baki pembuatan bio plastik (plastic resin) yang ramah lingkungan.
"Kami akan pasik Sebacic Acid ke Jepang, karena kebutuhan Sebacic di Jepang per tahun 400 ribu ton dan banyak digunakan dalam industri textil, industri mobil dan electronic termasuk komputer. Kita ingin supplai 200 ribu ton, kalau bisa," tambahnya.
(wep/ang)











































