Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) Tjokro Gunawan saat dihubungi detikFinance, Kamis (7/4/2011)
"Setiap perusahaan beda-beda, produsen yang sudah memakai stok baru telah menaikan harga 10% belakangan ini, (minyak) hampir setiap minggu naik US$ 2," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi lonjakan harga minyak saat ini dampaknya lebih keras bagi industri plastik," tegasnya.
Ia menambahkan pengenaan bea masuk (BM) impor bahan baku plastik sebesar 15% dari negara di luar kawasan ASEAN yang tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 19/PMK 011/2009 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk Atas Barang Masuk Impor Produk-Produk Tertentu, membuat industri plastik semakin ketar-ketir.
"Itu kita minta ditunda dululah agar industri tak terpuruk, karena kenaikan harga konsumen juga akhirnya yang harus menanggung," katanya.
Di industri plastik hilir, komponen biaya bahan baku mencapai 70-95%. Misalnya untuk botol plastik komponen produksinya hampir 70% adalah plastik, karung plastik, dan kantong plastik hingga 90%.
"Kalau begini terus kita akan diserang impor barang jadi, karena bea masuknya 0%. Misalnya alat rumah tangga, mainan anak-anak, tidak menutup kemungkinan kantong plastik impor," katanya.
Saat ini, lanjut Gunawan, industri plastik hilir hanya beroperasi pada utilisasi (pemanfaatan kapasitas terpasang) sebesar 70%. Ini setara dengan penggunaan bahan baku 1 juta ton PP per tahun.
"Pasokan PP kita berasal dari dalam negeri 500.000 ton, sisanya impor," katanya.
(hen/dnl)











































