Minyak Melonjak, Harga Kantong dan Botol Plastik Naik 10%

Minyak Melonjak, Harga Kantong dan Botol Plastik Naik 10%

- detikFinance
Kamis, 07 Apr 2011 14:36 WIB
Jakarta - Para produsen plastik hilir tak kuasa menahan kenaikan harga bahan baku plastik polipropilina (PP) karena lonjakan harga minyak dunia. Harga kantong dan botol plastik misalnya telah mengalami kenaikan beberapa pekan terakhir sebesar 10%.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) Tjokro Gunawan saat dihubungi detikFinance, Kamis (7/4/2011)

"Setiap perusahaan beda-beda, produsen yang sudah memakai stok baru telah menaikan harga 10% belakangan ini, (minyak) hampir setiap minggu naik US$ 2," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gunawan menjelaskan ada yang berbeda dari kenaikan minyak dunia saat ini. Misalnya ia mengilustrasikan pada saat harga minyak tembus US$ 140 per barel beberapa tahun lalu harga PP masih US$ 1.800 per ton namun saat ini ketika harga  minyak baru  menyentuh US$ 110 per barel harga PP sudah menembus US$ 2.000 per ton.

"Jadi lonjakan harga minyak saat ini dampaknya lebih keras bagi industri plastik," tegasnya.

Ia menambahkan pengenaan bea masuk (BM) impor bahan baku plastik sebesar 15% dari negara di luar kawasan ASEAN yang tercantum dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 19/PMK 011/2009 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk Atas Barang Masuk Impor Produk-Produk Tertentu, membuat industri plastik semakin ketar-ketir.

"Itu kita minta ditunda dululah agar industri tak terpuruk, karena kenaikan harga konsumen juga akhirnya yang harus menanggung," katanya.

Di industri plastik hilir, komponen biaya bahan baku mencapai 70-95%. Misalnya untuk botol plastik komponen produksinya hampir 70% adalah plastik, karung plastik, dan kantong plastik hingga 90%.

"Kalau begini terus kita akan diserang impor barang jadi, karena bea masuknya 0%. Misalnya alat rumah tangga, mainan anak-anak, tidak menutup kemungkinan kantong plastik impor," katanya.

Saat ini, lanjut Gunawan, industri plastik hilir hanya beroperasi pada utilisasi (pemanfaatan kapasitas terpasang) sebesar 70%. Ini setara dengan penggunaan bahan baku 1 juta ton PP per tahun.

"Pasokan PP kita berasal dari dalam negeri 500.000 ton, sisanya impor," katanya.
(hen/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads