"Jilbab China masih membanjiri Indonesia. Kenapa tidak kita garap sendiri daripada di garap orang lain (China)," kata Direktur Jendral Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementrian Perindustrian Euis Saedah di Hotel Grand Aquila, Bandung, Jumat (8/4/2011).
Keinginan ini, menurut Euis, bukan didasari oleh penyebaran agama yang menjadi mayoritas di Indonesia. Namun, permintaan pasar yang besar membuat target perlu direalisasikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Euis mengatakan, beberapa negara Eropa, seperti Turki banyak yang menyukai busana muslim asal Indonesia. Ia berharap produk busana muslim Indonesia bisa bersaing di pasar dalam negeri danย bersaing di China.
"Industri kreatif tidak akan berkembang kalau tidak dibarengi dengan budaya lokal, biar bisa bersaing dengan China," pungkasnya.
Euis menambahkan, kebutuhan pakaian, secara umum, bukan hanya sebagai penutup badan dan untuk melindungi kulit. Namun, pakaian bisa digunakan juga untuk gaya hidup.
"Kebutuhan pakaian bukan hanya untuk safety, tapi juga untuk lifestyle," ujarnya.
(hen/hen)











































