Para pelaku industri industri garmen dan pedagang di sentra pakaian Tanah Abang sudah dua bulan terakhir susah mendapat bahan baku tekstil. Penyebabnya para produsen tekstil besar dalam negeri lebih senang mengekspor dari pada memasok ke industri kecil.
Ketua Komite Pedagang Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Heris mengatakan saat ini para pedagang yang juga merangkap produsen garmen banyak menggunakan tekstil China dan India. Meskipun tekstil China dan India memiliki kalah motif dan desain dengan produk lokal.
"70% pedagang Tanah Abang kekurangan bahan baku, karena produsen tekstil besar banyak lebih pilih ekspor mungkin kepastian pembayaran lebih bagus," katanya kepada detikFinance, Rabu (20/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi ini diperparah dengan naiknya harga bahan baku tekstil karena dipicu melonjaknya harga kapas hingga 90% dari harga biasanya.
"Di Tanah Abang sekarang turun, kekurangan bahan baku, bukan sepi karena serapan nggak ada, tapi bahan baku kurang," tegasnya.
Sehingga ia meminta agar pemerintah membuat regulasi terkait bea keluar bagi produk tekstil agar produk bahan baku bisa diserap di dalam negeri. Kondisi sekarang ini sungguh ironis, karena banyak produsen tekstil besar mengekspor namun pasar pakaian jadi (garmen) dalam negeri dikuasai barang impor.
"Ibu Mari (menteri perdagangan) nggak ngerti soal TPT (tekstil dan produk tekstil), nggak peduli. Seharusnya diatur untuk mengsisi pasar dalam negeri berapa, jangan hanya ekspor saja yang dihitung," ketusnya.
Menurutnya dari jumlah pedagang di Tanah Abang sebanyak 28.000 orang, sebesar 75% merangkap sebagai UKM pembuat pakaian jadi. Sementara sisanya adalah pedagang murni yang hanya menjual pakain jadi termasuk paling banyak dari impor China maupun India.
"Sekarang saja dengan bahan baku kurang, yang tadinya mempekerjakan 50 orang hanya 20 orang, yang punya tenaga kerja 200 hanya tinggal 50 atau 100 orang," katanya.
(hen/ang)











































