Bahan Baku Melejit, Industri Jamu Menjerit

Bahan Baku Melejit, Industri Jamu Menjerit

- detikFinance
Senin, 25 Apr 2011 17:28 WIB
Bahan Baku Melejit, Industri Jamu Menjerit
Jakarta - Bahan baku untuk industri jamu saat ini makin langka karena permintaan ekspor bahan baku yang tinggi. Terbatasnya suplai bahan baku itu menyebabkan kenaikan harga bahan baku jamu di dalam negeri.

"6 Bulan ini harganya meledak sekali. Bukan hanya karena cuaca tetapi juga karena pembelian dari luar terutama Pakistan dan Bangladesh. Karena kebutuhan jahe karena mereka tahu manfaat jahe mereka membeli seenaknya. Yang mereka beli itu kualitas satu," kata Ketua Asosiasi Gabungan Pengusaha dan Obat Tradisional (GP Jamu) Charles Saerang usai acara pembukaan Musyawarah Nasional GP Jamu ke-VI di Kantor Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (25/4/2011).

Menurut Saerang, harga jahe kering saat ini naik menjadi Rp 120.000 per Kg dari sebelumnya hanya Rp 36.000 per kg atau sudah naik 400%. Harga temulawak naik dari Rp 10.000 per Kg menjadi RP 17.500 per Kg atau naik 70%. Puyang naik dari Rp 16.500 per Kg menjadi Rp 22.000 per Kg atau naik 33%. Harga adas naik dari Rp 26.000 per Kg menjadi Rp 30.000 per Kg atau naik 15,4%

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dikhawatirkan, jika hal ini terus berlanjut, maka tidak menutup kemungkinan di masa mendatang jamu tidak lagi menjadi bahan baku yang segar atau asli, melainkan menggunakan bahan baku essence," imbuh Saerang.

Selain bahan baku yang kian mahal, kendala lain yang saat ini dihadapi industri jamu adalah tidak berkembangnya pasar domestik. Hal ini sebagian disebabkan oleh maraknya peredaran jamu BKO (Bahan Kimia Obat). Pasar domestik juga terancam dengan gencarnya iklan produk herbal dan klinik asing di berbagai media massa yang melanggar peraturan BPOM.

"Daya beli masyarakat tidak tinggi. Malah masalah kalau asing masuk harga murah. Bahan klinik ini masuk dan mengiklankan. Padahal, kan, tidak boleh tapi boleh untuk ke asing, mereka punya klinik, seolah mereka herbal semua," katanya.

Ia juga mengatakan kegiatan ekspor jamu juga masih dihambat oleh izin negara tujuan ekspor yang rumit. Karena itu, perhimpunan pengusaha jamu berharap pemerintah dan lembaga terkait ikut mengupayakan agar izin itu makin mudah didapatkan.

"Khususnya di Eropa dan Amerika Serikat (AS)," ucap Saerang.

(irw/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads