"Porsinya mencapai 80% dari total produk furnitur, yang rotan asli cuma tinggal 20% saja," kata Sekertaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Rotan Indonesia (APRI) Lisman Sumardjani di kantor Kementrian Kehutanan, Senin (25/4/2011).
Menurut Lisman masyarakat sudah banyak mencari furnitur yang terbuat dari rotan. Namun, sayangnya bahan baku rotan setengah jadi sudah sulit didapatkan di pasar dalam negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan rotan dari plastik seharusnya tidak dikeluarkan di pasaran karena terkait prinsip ramah lingkungan. Sudah seharusnya produk semacam ini dikenakan pajak lingkungan. "Plastik itu merusak lingkungan," pungkasnya.
Dikatakannya maraknya furnitur yang terbuat dari rotan plastik karena larangan ekspor yang diberlakukan pemerintah.
Di tempat yang berbeda, Ketua Umum Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahjono mengatakan kebutuhan bahan baku rotan belum meningkat. Saat ini kebutuhan rotan di dalam negeri hanya 60.000 ton, artinya perlu ada upaya pemerintah untuk membantu membeli rotan asli.
"Jika pengusaha tidak mampu membeli, maka pemerintah ikut membantu menangani ini," tuturnya.
(hen/hen)











































